Minggu, 24 Juli 2011

Arema - Persema Kanjuruhan Siap Diverifikasi

Kanjuruhan Siap Diverifikasi
Sabtu, 23 Juli 2011 16:08
Tunggu Jadwal PSSI
MALANG-Jelang bergulirnya kompetisi musim depan, baik kompetisi dalam negeri maupun kompetisi di level Asia, manajemen Arema mulai mempersiapkan diri. Minimal persiapan untuk verifikasi atau assement yang dijadwalkan akhir bulan Juli nanti.
Seperti yang sudah-sudah, proses verifikasi tersebut menyangkut lima aspek klub professional seperti yang disyaratkan AFC sebagai iduk sepakbola Asia. Penilaian ini pun rencananya dilakukan oleh AFC bersama PSSI untuk kelayakan kompetisi musim depan.
Secara umum, tim Arema menyatakan siap untuk proses penilaian ini. Khususnya menyangkut infrastruktur stadion Kanjuruhan, sebagai salah satu poin penting untuk kompetisi Indonesia Super League maupun Liga Champions Asia.
“Untuk verifikasi kita sudah siap, dan kita sudah koordinasi dengan pihak Liga dalam hal ini Tigor Salambopoy (Sekretaris Liga, Red) terkait dengan jadwal verifikasi oleh AFC itu,” ungkap Manajer Media Officer Arema, Sudarmaji.
“Kalau dari jadwal yang lama dari BLI itu akhir Juli ini, tapi mereka tetap menunggu konfirmasi dari pengurus PSSI yang baru, dan sampai sekarang belum dapat kepastian jadwalnya untuk verifikasi tersebut,” sambungnya.
Mengaku juga telah melakukan koordinasi dengan Sihar Sitorus selaku koordinator bidang kompetisi PSSI, Darmaji meyakinkan untuk penilaian infratruktur Arema sudah siap. Termasuk sudah berkoordinasi dengan pihak stadion Kanjuruhan.
“Ya, kita sudah koordinasi dengan pihak stadion, dan menyatakan stadion Kanjuruhan sudah siap untuk proses verifikasi itu. Termasuk pengelola stadion siap memberikan surat jaminan penggunaan stadion untuk Arema,” jelas Sudarmaji.
Menurut mantan wartawan ini, adanya surat jaminan yang dikeluarkan UPTD Stadion Kanjuruhan ini menjadi salah satu persyaratan penting dalam proses assement nanti. Lantaran tanpa jaminan tersebut, sulit satu tim bisa lolos verifikasi.
“Stadion menjadi penting karena untuk penyelenggaraan pertandingan. Meski dari keterangan pengelola, masih ada beberapa fasilitas yang perlu ditambah seperti medical room, ruang untuk tes doping dan penambahan cctv, tapi secara keseluruhan Kanjuruhan sudah siap,” yakin Sudarmaji.
Sementara itu, pengelola stadion Kanjuruhan, dalam hal ini Kepala UPTD Stadion Kanjuruhan, Abdul Haris juga memastikan stadion milik Pemkab Malang ini sudah siap untuk proses verifikasi oleh AFC. “Ya, kita sudah siap, dan tidak ada masalah dengan stadion Kanjuruhan,” katanya. (bua)
Read more..

Kamis, 21 Juli 2011

Pegadaian Tagih Arema

MALANG - Saat kepengurusan Arema diambang dualisme menyusul hadirnya dua Pembina Yayasan yang berbeda, manajemen tim berjuluk Singo Edan ini juga dibelit utang. Khususnya utang pada pihak ketiga yang selama ini telah membantu Arema.
Pihak-pihak tersebut, kini tengah menagih utang yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah tersebut. Jika dirinci, ada sekitar 10 pihak yang berurusan dengan manajemen Arema untuk menagih utang selama satu musim kompetisi kemarin.
Sebut saja utang kepada biro perjalanan, Aneka Kartika Tours, nilainya lebih dari Rp 100 juta. Termasuk utang kepada kepada Hariono Travel mencapi Rp 36 juta, yang kabarnya ikut menyeret salah satu karyawannya karena terancam dipecat.
‘’Ya, utang Arema kepada kami diatas Rp 100 juta,’’ ungkap Irsam, Divisi Sport Aneka Kartika Tours saat dikonfirmasi perihal utang Arema. Menurutnya, untuk kesekian kalinya manajemen Arema hanya bisa memberi janji untuk melunasi utang tersebut.
Perihal utang kepada Hariono Travel yang selama ini menggunakan personal garansi menyebabkan salah satu karyawan agen tiket itu terancam dipecat jika tak segera menyelesaikan urusan utang tersebut dengan manajemen Arema.
Beberapa karyawan Arema pun dikejar-kejar pihak ketiga yang selama ini berhubungan dengan mereka. Diantaranya ditagih manajemen bus Zena yang selama ini menyewakan transportasi berupa bus untuk keperluan tim Arema.
Ditagih perusahaan konveksi terkait dengan sablon untuk kostum Arema, mencapai sekitar Rp 8 juta. Ditagih pihak supplier bahan makanan yang selama ini menyediakan kebutuhan makan bagi pemain selama di mess.
Lalu menurut informasi, manajemen Arema juga ditagih pihak pegadaian terkait dengan pembayaran cicilan untuk empat mobil Arema yang telah digadaikan. Belum lagi utang-utang lainnya yang hingga saat ini masih belum terdeteksi.
‘’Risih juga ditagih terus, karena kami harus menjawab sesuatu yang tidak kami mengerti. Kami juga tidak tahu siapa yang akan membayar utang itu,’’ ungkap salah satu karyawan Arema tak ingin namanya disebutkan, beberapa waktu lalu.
Jika mengacu pada manajemen sebelumnya, Pelaksana Harian PT Arema Indonesia adalah Abriadi Muhara. Namun pria yang juga Ketua Panpel Arema ini tak bisa berbuat banyak, lantaran bukan pemegang kebijakan tertinggi di Arema.
Kebetulan saat ini kepengurusan Arema juga belum ada kejelasan. Satu sisi berdiri M. Nur, Ketua Yayasan Arema yang sudah diberhentikan dan kini tengah menggagas pengurus baru bersama Pendiri Arema, Lucky Acub Zaenal.
Sisi yang lain ada Rendra Kresna yang sebagai Pembina Yayasan juga siap menyusun kepengurusan baru. Namun menariknya, perihal tagihan utang tersebut belum ada pihak yang benar-benar siap untuk bertanggung jawab.
‘’Salah satu utang Arema itu memang ke Hariono Travel. Pada saat ditagih kenapa disampaikan kepada saya. Sedangkan saat Arema ada program latihan itu, saya tidak pernah diberitahu,’’ ungkap Abriadi Muhara perihal adanya tagihan utang itu.
Namun Rendra sendiri bersama stafnya belum bisa dikonfirmasi terkait pembayaran utang-utang yang kebanyakan sudah memasuki jatuh tempo atau harus segera dilunasi ini.
Meski dari Aneka Kartika Tours, informasinya Abriadi meyakinkan bahwa jika tiba waktunya, utang Arema akan dibayar. Lantaran sebelumnya diketahui Abriadi telah melaporkan utang-utang Arema tersebut kepada M. Nur.
Termasuk rincian utang satu kali bonus kemenangan dan sisa 2,5 bulan gaji pemain yang belum dibayar pada pemain Arema telah diserahkan kepada M. Nur. Sehingga tampaknya M. Nur yang bakal menyelesaikan semua utang tersebut.
Seperti yang dilakukannya saat membayar tiga bulan gaji pemain di Pemkot Batu beberapa waktu lalu. Uang yang digunakan M. Nur itu adalah dari salah satu investor yang disebut-sebut bernama Oesman Sapta Odang, pengusaha asal Kalimantan Barat.
Oesman yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini kabarnya juga terkait dipilihnya Rudolf Butar Butar sebagai Pembina Yayasan Arema yang ditunjuk oleh Lucky Acub Zaenal dalam kapasitasnya sebagai pendiri.
Rudolf yang adalah Mayjend Purnawirawan TNI itu juga salah satu Ketua HKTI. Sehingga untuk sumber keuangan Arema nantinya, diperkirakan juga dari Oesman sebagai bos dari OSO Grup tersebut. Meski hingga kemarin belum ada keterangan resmi dari pihak Lucky terkait investor Arema.
Termasuk M. Nur hingga tadi malam juga tidak menjawab konfirmasi dari Malang Post. Begitupun Erpin Yuliono SH sebagai konsultan hukum dan Benediktus Bosu sebagai notaris yang menyelesaikan legalitas Yayasan Arema yang dibentuk Lucky ini belum bisa dikonfirmasi. (bua)
Read more..

Senin, 18 Juli 2011

Ikul Tunjuk Pembina Baru

MALANG -Gonjang-ganjing kepengurusan Arema memasuki babak baru. Adalah pendiri Arema, Lucky Adriana Zaenal secara resmi merilis Pembina Yayasan Arema yang baru.
Menariknya, dua nama pembina itu masih asing di telinga Aremania. Mereka juga bukan Rendra Kresna dan Eddy Rumpoko seperti yang selama ini menjadi pembahasan publik. Termasuk juga bukan Sam Ikul, panggilan akrab Lucky, sendiri.
Diluar dugaan, Sam Ikul menunjuk dua nama purnawirawan. Yaitu Mayor Jendral (Purn) Suprapto dan Mayor Jendral (Purn) Rodolf Butar-Butar. Keduanya ditunjuk dan diangkat sebagai Pembina Yayasan Arema terhitung sejak, Senin (18/7) kemarin.
Menariknya, landasan yang dipakai Sam Ikul untuk mengeluarkan keputusan itu adalah akta pendirian Yayasan Arema tahun 1987 yaitu akta nomer 57. Padahal akta itu sudah berubah beberapa kali.
’’Tanpa mengesampingkan pihak lain, maka saya sebagai Dewan Pendiri akhirnya menunjuk dan mengangkat Bapak Mayjend Purnawirawan Suprapto dan Mayjend Rudolf Butar-butar untuk duduk di dewan Pembina Yayasan Arema,’’ ungkap Sam Ikul kepada wartawan di rumahnya, kemarin sore.
Untuk pengurus lama yang tersisa, dia memastikan tidak ada istilah pemecatan. Seperti posisi Bambang Winarno sebagai Pengawas Yayasan, dipastikannya tetap tidak ada perubahan. Meski Sam Ikul menambah satu lagi pengawas Yayasan yaitu Heru Jatmiko SH.
’’Usai keputusan ini, dalam tempo yang secepat-cepatnya, paling lambat 30 hari setelah hari ini (kemarin, Red.) pengurus Yayasan sudah terbentuk lengkap. Setelah itu saya harap bergerak untuk persiapan menyusun tim musim depan,’’ yakin Sam Ikul yang mengaku telah memikirkan dengan matang keputusannya ini.
Sedangkan terkait dengan posisi Rendra Kresna yang sebelumnya dipilih sebagai Pembina Yayasan, menurutnya belum berubah sebagai Presiden Klub. Menurut pria kelahiran Malang, 9 Desember 1960 ini keputusannya tersebut lebih fokus menunjuk Pembina Yayasan.
’’Pak Rendra tetap sebagai Presiden Klub karena posisi itu yang saya tahu. Kebetulan saat ini yang diributkan itu Dewan Pembina, untuk susunan pengurus dan Ketua Yayasan akan diatur oleh Dewan Pembina,’’ terang Lucky mengaku untuk M. Nur sendiri sudah tidak ingin lagi diposisi Ketua Yayasan.
’’Tapi beliau (M Nur, Red.) masih ingin menyelesaikan tanggung jawabnya. Lalu siapa Ketua, Sekretaris dan Bendahara Yayasan, semua terserah Pembina. Sedangkan Pak Eddy Rumpoko yang posisinya sebagai kepala Daerah tidak ingin masuk pengurus karena bertentangan dengan undang-undang, beliau hanya fasilitator,’’ jelasnya.
Meski demikian, Suprapto, Pembina Yayasan yang mantan Dandim Kota Malang tahun 1992-1993 diharapkan tetap mengakomodir orang-orang yang secara hukum tidak bisa masuk kepengurusan ini. Menyusul menurut Ikul, mereka masih memiliki ikatan batin dengan Arema.
’’Dengan mungucap bismillah, semoga keputusan saya ini bisa diterima semua pihak dan masyarakat. Semoga 18 Juli ini menjadi kilas balik untuk Arema bisa lebih baik. Untuk program kedepan tergantung percepatan pembentukan pengurus. Secara legal sudah saya tandatangani,’’ yakin pendiri Arema yang pernah jadi pembalap nasional ini.
Terkait dipilihnya dua Pembina yang purnawirawan TNI itu, menurut Ikul lantaran keduanya memiliki kedekatan dengan Arema dan Malang. Kebetulan juga memiliki kedekatan dengan Mayjen TNI (Purn) Acub Zaenal, ayahanda dari Lucky Acub Zaenal.
‘’Mereka berdua merasa terpanggil. Yang pasti keputusan saya ini semata-mata untuk penyelamatan Arema agar urusannya selesai. Saya tidak mau gegabah mengambil keputusan, saya berusaha berdiri di tengah, meski saya tahu posisi saya sulit, dan saat ini adalah waktu yang tepat,’’ katanya yang didampingi Abriadi Muhara, Pelaksana Harian PT Arema Indonesia.
‘’Saya sebagai satu-satunya yang mengemban amanah dari ayah saya, Acub Zaenal, maka saya ambil langkah ini setelah saya pikirkan berminggu-minggu, agar permasalahannya tuntas,’’ sambung Sam Ikul mengaku sudah mengkonsultasikan langkahnya ini kepada banyak pihak.
Meski diakuinya belum melakukan komunikasi langsung dengan Rendra Kresna yang beberapa waktu lalu juga berniat menyusun kepengurusan baru. Namun dipastikan dirinya tidak pernah memihak atau ikut kubu-kubuan. ‘’Toh saya tidak menyingkirkan mereka, saya hanya melengkapi, karena yang ribut selama ini soal Pembina,’’ ucapnya.
Pendiri yang juga mantan manajer tim Arema ini berharap keputusannya tak membuat adanya permusuhan. Lantaran dirinya mengaku tidak pernah menggugurkan susunan pengurus yang sebelumnya dianggap telah ada. Khususnya menyangkut status Rendra sebagai Pembina atau rencana Eddy Rumpoko sebagai Pembina.
‘’Putusan ini tidak untuk menggugurkan siapapun, karena saya anggap belum ada yang valid. Apalagi kalau ini sampai ke ranah hukum, persoalannya tambah ribet, saya rasa ini yang paling enak. Kita diam-diam juga sudah menyusun program kerja untuk Arema,’’ yakin Lucky.
Perihal dasar hukum yang digunakan Ikul, menurut Erpin Yuliono SH, MH, pengacara yang dipercaya sebagai konsultan hukum persoalan Yayasan Arema ini menjelaskan bahwa dasar hukumnya adalah Lucky sebagai Pendiri. Itu berdasarkan Akta Yayasan Arema tahun 1987.
‘’Ya, dasar hukumnya Mas Lucky sebagai pendiri, sesuai dengan Akta pendirian awal Yayasan Arema tahun 1987 yaitu akta nomer 57 yang dikeluarkan notaris Pramu Haryono di Malang, tertulis Lucky dan Acub Zaenal sebagai pendiri,’’ terang Erpin saat mendampingi Lucky.
Menurutnya, akta tersebut masih tetap berlaku, sekalipun sudah banyak terjadi perubahan hingga saat ini. ‘’Saya tidak gegabah kalau tanpa dasar hukum. Disini kita pilih yang netral, saya harap bisa memadukan semua unsur, untuk yang lain-lain terserah Pembina,’’ pungkas Lucky memastikan Dewan Pembina dan susunan Pengurus Yayasan Arema yang baru ini belum diaktanotariskan. (bua/avi)
Read more..

Pemain Tuntut Sisa Gaji

MALANG – Pemain Arema Indonesia berharap manajemen Singo Edan bisa memenuhi haknya yang kini masih tersisa. Diantaranya, pembayaran gaji hingga akhir masa kontrak dan sekali bonus kemenangan tim saat tampil di ajang Indonesia Super Liga (ISL) musim kemarin. Hingga kemarin, mereka belum mendapati kepastian tentang pelunasan tunggakan haknya itu dari manajemen tim.
Mereka juga punya keinginan manajemen Arema bisa menyelesaikannya. Meski sejatinya, pemain juga mengetahui, konflik internal di tubuh manajemen masih saja terjadi hingga saat ini. Hanya saja, pemain tidak punya kewenangan untuk ikut bersikap tentang konflik tersebut. Pada intinya, mereka hanya berharap manajemen dapat memenuhi kwajibannya terhadap para pemain.
‘’Gaji pemain dan sekali bonus diselesaikan, itu sekarang jadi pertanyaan pemain. Yang kemarin, pemain tidak ngerti dan tidak tahu apa yang terjadi. Yang saya saya tahu, kemarin tiga bulan gaji sudah dibayar, sekarang masih ada sisa gaji sampai akhir kontrak (Juli, Red),” terang Noh Alam Shah, kapten Arema Indonesia seusai latihan tim di Lapangan Abdurahman Saleh Pakis, pagi kemarin.
Ya, sebelum Arema menjalani satu laga terakhir di Indonesia Super Liga (ISL), 19 Juni lalu, pemain mendapat pelunasan tiga bulan gajinya yang sempat ditunggak manajemen. HM Nur, yang sebelumnya sebagai Ketua Yayasan Arema datang sebagai pahlawan usai dibantu Walikota Batu, Eddy Rumpoko, sebagai penggalang dana dari rekanan pengusaha. Hanya saja, pembayaran itu tidak sepengatahuan Rendra Kresna, yang secara legalitas duduk sebagai Dewan Pembina Yayasan Arema.
Kini, pemain berharap sisa gaji 1,5 bulan, untuk mereka yang masa kontrak di Arema habis akhir Juli dan 2,5 bulan untuk yang kontraknya habis akhir Agustus mendatang, bisa diselesaikan manajemen. Hanya saja, mereka bingung mau meminta ke siapa. Sebab, Rendra juga siap mencairkan seluruh sisa tunggakan gaji pemain jika pemain mengembalikan uang pembayaran tiga bulan gaji yang diberikan HM Nur karena dianggap uang itu berasal dari pihak lain, diluar manajemen Arema.
‘’Jika sekarang Pak Rendra mau beri itu (sisa gaji, Red) ke pemain. Kenapa tidak dikasih? Saya dan pemain lainnya tidak mau bicara jelek, kita semua bicara fakta. Kita tidak terima hak. Setelah Arema jadi juara kedua ISL, kita belum bertemu pengurus. Lihat, semua orang ada akal, manajemen jangan terus emosi. Sebenarnya, yang pantas emosi semua pemain, pantas marah, karena sudah selesaikan kwajiban dan berikan semuanya untuk Arema. Tapi kita sepantasnya tak marah,” pungkas Along, sapaan akrab pemain asal Singapura ini. (poy/bua)
Read more..

ISL, LPI, Merger Or No?

Beberapa saat terakhir ini, di social media sedang ramai di bicarakan pro dan kontra wacana merger antara klub Liga Super Indonesia (LSI/ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI). Wacana ini bermula dari pernyataan Komisaris Persebaya 1927 yang juga salah satu penggagas LPI Saleh Mukaddar sebagaimana dilansir oleh Tempo Interaktif. Dalam wawancaranya Saleh Mukaddar menyampaikan ”Pasti (LPI) dihentikan. FIFA melarang ada dua liga dalam satu negara,” dan sebagai gantinya PSSI segera membentuk liga baru untuk penggabungan ISL dan LPI. Lebih lanjut saleh mengungkapkan bahwa bagi daerah yang telah memiliki klub yang sudah berbentuk PT, maka penggabungan akan mudah dilakukan. Misalnya Persipura akan digabung dengan Cendrawasih FC, kemudian Semen Padang dengan Kabau Padang, Jakarta FC dengan Persija, Batavia Union dengan Persitara, Persib dengan Bandung FC, dan PSB dengan Bogoraya.

Yang menarik dari wawancara diatas adalah ketika Saleh (disebutkan di berita) sebagai salah satu penggagas LPI mengatakan bahwa “FIFA melarang ada dua liga dalam satu negara”. Pernyataan tersebut tentunya menjadi tanda tanya yang amat besar bagi kita semua, kalau memang beliau memahami bahwa FIFA melarang ada dua liga dalam satu negara, lantas dengan pertimbangan apa beliau menggagas liga ketika sudah ada liga yang berjalan?.

Wacana penggabungan 2 atau beberapa club yang berada dalam satu kota dan berada dalam liga yang berbeda ini tentunya menarik perdebatan pro dan kontra. Sebelumnya, team Promosi Persiba Bantul dengan tegas menolak wacana penggabungan ini sebagaimana dilansir dalam web komunitas suporternya Paserbumi Online disampaikan melalui Wakil Manager bidang Operasional, Bagus Nur Edi Wijaya, secara tegas menolak. “Ini masalah rasa keadilan. Persiba butuh 10 tahun, dari Divisi III untuk bisa masuk ISL. Belum lagi puluhan Milyar Rupiah dana yang kita habiskan hingga sekarang,” ujar Bagus, Senin (11/7). Dari sisi keadilan memang jelas amat timpang. Bagaimana mungkin, tim yang baru kemarin sore berdiri, ujug-ujug masuk ke kasta tertinggi Sepakbola Indonesia. Seakan tak sebanding bila mengingat keringat, darah hingga cidera para pemain yang telah membela skuad Laskar Sultan Agung. Penolakan lain juga disamaikan oleh komunitas suporter pendukung Sriwijaya FC, yaitu Singamania melalui akun twitternya @SingaManiaSFC Hrs ada jalan keluar yg terbaik utk kompetisi di tanah air,wacana merger sangat tidak relevan & mencederai semangat sportivitas dlm olahraga. Sedangkan komunitas suporter JakMania pendukung Persija Jakarta melalui akun twitternya @JakOnline juga dengan tegas melakukan penolakan terhadap wacana merger ini.

Peraturan Menteri Dalam Negeri (PerMenDagri) No. 1 Tahun 2011 tentang APBD yang mengatur pelarangan alokasi APBD untuk Club Sepak Bola menjadi salah satu pertimbangan lain disamping adanya larangan dua liga dalam satu federasi. Sebelumnya pada tahun 2006 juga sudah dikeluarkan peraturan sejenis dengan bahasa yang kurang lugas. Artinya bahwa sosialisasi dari pelarangan dana APBD untuk Club Sepakbola telah dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga diyakini club juga sudah melakukan persiapan-persiapan dalam rangka pelaksanaan peraturan tersebut. Mayoritas club ISL yang memang masih menggunakan dana APBD sebenarnya perlahan-lahan sudah mulai berkurang. Pada musim kompetisi 2010/2011 club non APBD bertambah satu lagi dengan masuknya Semen Padang sebagai team promosi. Sementara itu, disamping Arema Indonesia yang sejak awal berdirinya tidak pernah menggunakan dana APBD, Persib Bandung melalui PT. Persib Bandung Bermartabatnya juga sudah melakukan upaya-upaya untuk lepas dari cengkraman APBD, belum lagi Pelita Jaya Karawang yang juga alumni Galatama juga sudah sejak lama tidak menggunakan dana APBD. Artinya, dalam kondisi yang berubah, sebagaimana makhluk hidup, club akan melakukan berbagai macam penyesuaian dan usaha untuk tetap survive, sebagaimana teori Charles Darwin yang berlaku untuk makhluk hidup, pada club pun perilaku dan kebiasaan akan mengalami perubahan. Terlebih lagi bagi club2 yang memiliki basis suporter kuat seperti Persija Jakarta, Persiba Bantul yang baru lolos promosi, Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, Semen Padang, dan hampir seluruh club peserta ISL lainnya.

Suporter adalah stake holder sesungguhnya dalam dunia sepakbola. Dalam wacana sepakbola Industri, antusiasme suporter adalah kebutuhan yang mutlak. Lihat saja club2 dari negara industri sepakbola maju seperti Inggris. Liverpool, Arsenal, Manchester United, dan club2 lainnya dari Premiere League ketika jeda kompetisi melakukan tour/kunjungan ke beberapa negara diluar benuanya untuk melakukan kunjungan dan penguatan basis-basis suporternya yang ada di luar Inggris dan Eropa. Dapat dimaklumi bahwa dari penjualan hak siar televisi, penjualan merchandise, club bisa mendapatkan pemasukan yang cukup besar disamping dari penjualan tiket stadion. Dengan demikian dapat ditarik satu benang biru bahwa Besarnya dukungan suporter akan berbanding lurus dengan besarnya potensi bisnis. Perencanaan bisnis yang seksama, strategi penggalian pos-pos pemasukan melalui berbagi sektor, upaya-upaya untuk menggaet sponsor dan sumber pemasukan lainnya memang perlu disusun secara cermat dan sistematis. Namun secermat dan sistematis apapun, hal tersebut dilakukan,jika tidak memiliki pasar akan percuma saja. Dalam dunia industri sepakbola, Suporter adalah pasar.

Konsep industrialisasi sepakbola yang ditawarkan oleh LPI memang menarik, proporsi pembagian saham Liga, dana sponsorship, hak siar televisi dan berbagai potensi pemasukan lainnya yang lebih berat kepada Club memberikan rasa adil bagi masing-masing club, karena bagaimanapun juga dalam piramida suatu liga, yang mengeluarkan biaya besar adalah club. Club membutuhkan biaya untuk mengontrak dan menggaji pemain, operasional pertandingan home dan away, an biaya-biaya lainnya. Oleh karena itu, proporsi pembagian pemasukan dengan lebih besar kepada club adalah suatu hal yang menarik. Namun yang patut dipertanyakan adalah dengan basis massa penonton yang tidak besar seberapa besarkan pemasukan yang didapatkan? Berbeda dengan ISL yang data penonton langsungnya selalu terupdate setiap pertandingan, hingga putaran pertama usai, statistik data penonton masih belum dapat disimak di web resmi LPI . Namun dari pertandingan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi Indosiar pada putaran pertama yang lalu, dapat disimak bahwa selain pertandingan home Persebaya 1927, PSM Makassar, Persibo Bojonegoro dan Bali Devata dapat disaksikan bahwa rata-rata kurang dari 10% kapasitas stadion terisi. Bahkan Persema Malang sampai menghadirkan Cheer Leader untuk memberikan daya tarik tontonan, namun hal tersebut masih belum mampu mengundang penonton lebih banyak ke Stadion.

Bisnis Sepakbola bukanlah bisnis olah raga, namun bisnis tontonan. Olah Raga Sepakbola adalah sportifitas, bukan bisnis. Yang dibisniskan adalah tontonan dan hiburannya. Oleh karena itu, faktor penonton baik yang datang langsung ke stadion maupun melalui televisi adalah hal yang sangat penting. Seberapa besar jumlah penonton dan penggemar sebuah club akan menjadi bahan pertimbangan yang mendasar bagi pihak investor dan sponsorship untuk bekerjasama, hal ini menjadi hal yang sangat bisa dimaklumi karena akan terkait dengan seberapa besar branding sponsor mereka akan terpasarkan. Memberikan investasi ataupun pinjaman kepada club pun juga akan mempertimbangkan faktor sponsorship. Lihat saja bagaimana kekhawatiran komunitas Persibo Bojonegoro (Boromania) yang disampaian dalam tweetnya “@Bor0_Mania Persibo masuk LPI sudah Profesional? “saya” kira belum. Lepas dari APBD tetapi masih memakai pinjaman konsorium. ” (Tweet 17 Juli jam sekitar 23.00), menjawab pertanyaan followernya, lebih lanjut mereka menyatakan “@Boro_Mania @super26hery Persibo dapat pinjaman kurang lebih 25 M, bagaimana bisa mengembalikan duit segitu padahal penonton di stadion berkurang.” Dari hal tersebut dapat disimak bahwa ada kekurangcermatan dalam merencanakan strategi bisnis dan investasi LPI kepada masing2 club.

Disamping itu, permasalah juga akan dihadapi oleh kubu LPI dan masing-masing clubnya jika wacana merger direalisasikan. Sebagaimana disampaikan di awal peluncuran liga bahwa kontrak pemain oleh club mengacu pada kontrak pemain di negara-negara maju, yaitu dengan menggunakan kontrak jangka panjang (lebih dari 1 musim). Disamping itu, putaran penuh kompetisi yang belum rampung tentunya juga masih meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada pihak sponsorship dan stasiun televisi penyiar yang tentunya sebelumnya juga sudah melakukan kontrak secara profesional, dan sebagai liga profesional tentunya durasi kontraknya juga tidak mungkin kurang dari satu musim. Terlebih lagi kontrak dengan sponsor-sponsor besar seperti Coca Cola, Microsoft, dan perusahaan kelas dunia lainnya yang bisa dipastikan memiliki jajaran team legal yang kuat dan berpengalaman, sehingga tidak mungkin asal dan memiliki celah hukum yang mudah untuk diakali dalam menyusun kontrak.

Besarnya pinjaman keuangan yang diberikan oleh konsorsium LPI kepada club yang begitu besar juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bahkan oleh komunitas suporter peserta kompetisi LPI. Hal ini tentunya juga akan menjadi pertanyaan jika dilakukan merger, apakah pinjaman itu juga akan turut menjadi kewajiban bersama atau sepeti apa? Jika profesionalisme dan kemandirian yang dikedepankan, maka tanpa dilakukan merger, jajaran kepengurusan PSSI Baru yang diisi oleh kalangan intelektual dan akademisi tentunya memiliki segudang pengalaman untuk melakukan pelatihan dan transformasi wacana terkait dengan pengelolaan club berbasis industri kepada masing-masing club, disamping itu juga dengan melakukan perubahan system kompetisi yang selama ini berlaku di ISL, melakukan pendampingan dan supervisi kepada masing-masing club untuk bisa menuju club yang mandiri. Proses edukasi dan advokasi adalah proses yang biasa direncanakan dan dijalankan oleh akademisi, oleh karena itu, saya yakin bahwa wacana merger yang merupakan pemikiran yang dangkal dan kurang mendasar akan menjadi wacana yang tidak akan masu ke dalam kerangka berfikir para kaum akademisi yang berada di jajaran pengurus teras PSSI Baru. (lek)
Read more..

Minggu, 17 Juli 2011

Perbaiki Manajemen Tim


MALANG – Skuad Arema Indonesia belum juga menyelesaikan gonjang-ganjing yang terjadi di tubuhnya. Konflik internal tim masih membayangi tim berjuluk Singo Edan ini seiring memasuki pra musim kompetisi baru. Padahal, Singo Edan tentunya segera bersiap diri menatap dua even berbeda musim depan, yakni ISL 2011-2012 dan AFC Cup 2012.
Seperti halnya masyarakat sepakbola Malang Raya umumnya, Yance Ratulangi, selaku pengamat sepakbola asal Kota Malang juga memiliki harapan Arema bisa segera fokus membangun tim. Dirinya mengaku sering berdiskusi dengan beberapa pelatih dan pemerhati sepakbola kota Malang, termasuk dengan mantan pelatih Arema, Gusnul Yakin lantaran merasa memiliki Arema.
‘’Dari diskusi kecil itu, prosedurnya yang harus dilakukan Arema terlebih dahulu yakni memperbaiki manajemen dulu. Jika sudah baik, semua pelaksanaan di tim nantinya akan baik. Termasuk program tim. Besok, Arema juga turun AFC Cup. Untuk menentukan arah kemana langkah Arema, tergantung beliau-beliuanya yang ada di manajemen tim,” ujar Yance saat dihubungi Malang Post, semalam.
Sembari jalan memperbaiki manajerial tim, mantan pemain Persiter Ternate era 80 an menyarankan agar Arema juga langsung fokus menyusun amunisi tim. Sehingga, awak Singo Edan dapat menyusun kelanjutan dari program apa yang akan dilaksanakan berikutnya. Hal ini sekaligus menunggu program dari PSSI, terkait format kompetisi dan kapan dimulai kompetisi musim depan nantinya. Dengan begitu, di tubuh Arema ada keseimbangan antara persiapan tim dengan manajerial.
‘’Dari dua musim ini, Arema sudah bagus. Hanya beberapa pemain yang kurang. Saat lawan Bontang FC lalu, saya lihat cadangan bisa bermain dan memaksimalkan kesempatan turun. Mereka yang kurang berkembang, bisa dilakukan tambal sulam. Reputasi dan prestasi sudah bagus, hanya kendala di posisinya, salah satunya di bek kiri,” terang mantan pemain Persema Malang ini. (poy/bua)
Read more..

Berharap Arema Rukun


MALANG- Adanya usulan nama Joko Driyono sebagai salah satu kandidat Ketua Yayasan Arema mendapat respon dingin dari pria yang terakhir menjabat sebagai CEO PT Liga Indonesia ini. Menurutnya, itu hanya sebatas isu belaka.
Meski Joko sendiri tampaknya memang kurang berminat untuk menempati posisi sebagai Ketua Yayasan Arema. Padahal Pembina Yayasan Arema, Rendra Kresna mengaku pria asal Ngawi itu masuk dalam dsaftar calon Ketua Yayasan.
“Isu apalagi ini,” ungkap Joko saat mendapat informasi perihal dirinya sebagai calon Ketua Yayasan Arema. “Terus terang saya tidak mengikuti, bagaimana juntrungannya Arema sekarang,” lanjutnya kepada Malang Post, kemarin sore.
Sejurus kemudian, Joko pun menanyakan perkembangan konflik yang terjadi di Arema. Pria yang kemarin tercatat juga sebagai Wakil Ketua Komite Normalisasi ini mengaku banyak pihak lain yang lebih berkopeten sebagai Ketua Yayasan Arema.
Padahal Joko sebenarnya memastikan dirinya sudah tidak lagi berada di dalam lingkaran PSSI. Posisinya di PT Liga Indonesia untuk saat ini sementara digantikan oleh Sigar Sitorus sebagai koordinator.
“Ya, untuk saat ini jangan Tanya lagi urusan PSSI, saya pmit dan mohon maaf ya,” katanya. “Untuk posisi Ketua Yayasan Arema, masih banyak lainnya yang lebih kompeten, yang penting rukun,” pesan Joko.
Sementara itu, hingga kemarin belum ada rilis dari Pembina Yayasan maupun Pengawas Yayasan terkait susunan pengurus Arema pasca dikeluarkannya Surat Keputusan pemecatan Muhammad Nur sebagai Ketua Yayasan.
“Belum ada kabar soal susunan pengurus, yang pasti sudah dalam proses. Ya mungkin dalam waktu dekat ini, seperti kata Pembina, bahwa sebelum puasa sudah ada susunan pengurus yang baru,” terang Pengawas Yayasan Arema, Bambang Winarno. (bua)
Read more..

Features-Content

Recent Posts