0
Rabu, 30 Maret 2011
Tanpa Esteban dan Leo Arema Harus Menang Lawan Persib
Jumat besok Arema akan kembali melakukan pertandingan lanjutan ISL di stadion Kanjuruhan menjamu Persib Bandung. Pertandingan ini sepertinya tidak akan menjadi lebih mudah dibanding dengan pertandingan melawan Sriwijaya karena kali ini Arema tidak akan diperkuat oleh pilar lini tengah Esteban dan center bek Leonard yang terkena akumulasi kartu.
Meski begitu, Arema tidak mau lagi kehilangan poin penuh karena hasil dua poin dari empat pertandingan di putaran kedua ISL sudah membuat Arema harus melorot posisi dari posisi dua ke posisi lima klasemen ISL. Namun, bukan hal mudah untuk mengalahkan tim asal Bandung ini apalagi mereka sepertinya telah bangkit setelah menuai hasil buruk di putaran pertama lalu.
Mengatasi hal ini, pelatih Arema Miroslav Janu sudah mempersiapkan timnya dengan cukup matang dan mempelajari kekuatan lawan. Selain itu, pemain-pemain yang biasa menjadi cadangan juga harus siap untuk diturunkan dalam pertandingan besok mengingat posisi Esteban dan Leo yang dipastikan kosong.
Hendra Ridwan kemungkinan akan menggantikan posisi Esteban di lini tengah dan opsi di lini belakang untuk menggantikan Leo sepertinya akan dipercayakan pada bek asing Roman Gollien atau juga mungkin Waluyo. Siapapun yang diturunkan nanti diwajibkan untuk bermain taktis dan lugas untuk menjaga keseimbangan permainan Arema di lini belakang dan tengah.
Semoga saja Arema bisa meraih tiga poin pertamanya di putaran dua ISL besok.
Direksi Ditunggu Utang
MALANG - Dialog atau duduk satu meja antara Pembina Yayasaan Arema, Pengurus Yayasan dan Direksi PT Arema Indonesia tampaknya menjadi hal yang sangat urgent atau penting untuk keberlangsungan tim kebanggaan Aremania ini.
Khususnya setelah sempat terjadi konflik di internal pengurus Arema, muncul ide dari Presiden Klub Arema, Rendra Kresna untuk mengajak semua pihak yang bertanggung jawab di Arema itu, duduk satu meja.
‘’Kita harap secepatnya semua pengurus bertemu membahas persoalan di Arema. Saya rasa bukan lagi soal hak suara, karena kongres PSSI juga tidak jelas. Tapi bagaimana menyelamatkan Arema,’’ terang Manajer Media Officer Arema, Sudarmaji, kepada Malang Post, kemarin.
Menurut mantan wrtawan ini, tarik ulur pengurus Arema ini juga bukan lagi seputar Arema harus ikut Indonesia Super League (ISL) atau Liga Prime Indonesia (LPI) seperti yang sempat jadi pertentangan selama ini.
‘’Persoalan yang mendesak di Arema adalah masalah financial. Ini harusnya menjadi bahasan utama dalam pertemuan itu. Jadi yang penting bagaimana menyelamatkan Arema dan Arema tetap eksis,’’ terang Darmaji.
Jika mengacu problematika tim Arema selama musim kompetisi 2010/2011 ini, cukup banyak PR (Pekerjaan Rumah) yang harus diselesaikan PT Arema Indonesia sebagai pihak yang bertanggung jawab mengelola tim Arema.
Baik itu untuk tim Arema U-21 yang berkompetisi di ISL U-21 maupun di tim Arema senior. Semuanya terkait dengan urusan financial. Baik yang sisa musim lalu maupun musim ini.
Menurut data yang dihimpun Malang Post, persoalan financial yang jadi PR Direksi PT Arema Indonesi diantara gaji pemain Arema U-21, gaji pemain senior, baik gaji 2,5 bulan musim lalu dan musim ini dua bulan belum dibayar.
Padahal kompetisi masih akan berakhir bulan Juni nanti, dan manajemen masih harus membayar empat bulan gaji lagi. Parahnya, dari PR musim lalu, manajemen juga punya tanggungan bonus juara ISL pada supporting staf.
Termasuk juga bonus Arema sebagai runner up Piala Indonesia, hingga saat ini belum jelas. Ini tentu menjadi PR yang harus diselesaikan direksi, agar mereka yang sudah berkerja di Arema, mendapatkan hak mereka.
Kembalinya HM Nur dan Siti Nurzanah sebagai Direktur Utama dan Direktur PT Arema Indonesia, diharapkan bisa segera menyelesaikan banyaknya PR tersebut. Dimulai dari rencana pertemuan pengurus Yayasan dan Direksi.
Kebetulan HM Nur adalah juga Ketua Yayasan Arema yang bertanggung jawab atas berjalannya roda organisasi PT Arema Indonesia. Dialog diharapkan menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan solusi agar tim Arema tetap eksis.
‘’Ya mudah-mudahan saja nanti ada tawaran solusi yang tepat untuk persoalan di Arema ini,’’ harap Sudarmaji mengaku belum ada konfirmasi dari pengurus perihal waktu dan tempat untuk dialog antara pengurus Yayasan dan Direksi PT Arema Indonesia tersebut.
Sementara itu sebelumnya saat menghubungi Malang Post, HM Nur mengaku siap datang untuk dialog bersama pengurus lainnya. Hanya waktunya yang harus disesuaikan. Apalagi, dia mengaku selama ini komunikasi secara intensif terus dilakukan.
‘’Kalau sudah ada kepastian dan saya diberitahu, pasti saya akan datang. Karena selama ini komunikasi saya dengan pengurus yang lain masih lancar,’’ kata HM Nur, Selasa kemarin.
Read more..
Khususnya setelah sempat terjadi konflik di internal pengurus Arema, muncul ide dari Presiden Klub Arema, Rendra Kresna untuk mengajak semua pihak yang bertanggung jawab di Arema itu, duduk satu meja.
‘’Kita harap secepatnya semua pengurus bertemu membahas persoalan di Arema. Saya rasa bukan lagi soal hak suara, karena kongres PSSI juga tidak jelas. Tapi bagaimana menyelamatkan Arema,’’ terang Manajer Media Officer Arema, Sudarmaji, kepada Malang Post, kemarin.
Menurut mantan wrtawan ini, tarik ulur pengurus Arema ini juga bukan lagi seputar Arema harus ikut Indonesia Super League (ISL) atau Liga Prime Indonesia (LPI) seperti yang sempat jadi pertentangan selama ini.
‘’Persoalan yang mendesak di Arema adalah masalah financial. Ini harusnya menjadi bahasan utama dalam pertemuan itu. Jadi yang penting bagaimana menyelamatkan Arema dan Arema tetap eksis,’’ terang Darmaji.
Jika mengacu problematika tim Arema selama musim kompetisi 2010/2011 ini, cukup banyak PR (Pekerjaan Rumah) yang harus diselesaikan PT Arema Indonesia sebagai pihak yang bertanggung jawab mengelola tim Arema.
Baik itu untuk tim Arema U-21 yang berkompetisi di ISL U-21 maupun di tim Arema senior. Semuanya terkait dengan urusan financial. Baik yang sisa musim lalu maupun musim ini.
Menurut data yang dihimpun Malang Post, persoalan financial yang jadi PR Direksi PT Arema Indonesi diantara gaji pemain Arema U-21, gaji pemain senior, baik gaji 2,5 bulan musim lalu dan musim ini dua bulan belum dibayar.
Padahal kompetisi masih akan berakhir bulan Juni nanti, dan manajemen masih harus membayar empat bulan gaji lagi. Parahnya, dari PR musim lalu, manajemen juga punya tanggungan bonus juara ISL pada supporting staf.
Termasuk juga bonus Arema sebagai runner up Piala Indonesia, hingga saat ini belum jelas. Ini tentu menjadi PR yang harus diselesaikan direksi, agar mereka yang sudah berkerja di Arema, mendapatkan hak mereka.
Kembalinya HM Nur dan Siti Nurzanah sebagai Direktur Utama dan Direktur PT Arema Indonesia, diharapkan bisa segera menyelesaikan banyaknya PR tersebut. Dimulai dari rencana pertemuan pengurus Yayasan dan Direksi.
Kebetulan HM Nur adalah juga Ketua Yayasan Arema yang bertanggung jawab atas berjalannya roda organisasi PT Arema Indonesia. Dialog diharapkan menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan solusi agar tim Arema tetap eksis.
‘’Ya mudah-mudahan saja nanti ada tawaran solusi yang tepat untuk persoalan di Arema ini,’’ harap Sudarmaji mengaku belum ada konfirmasi dari pengurus perihal waktu dan tempat untuk dialog antara pengurus Yayasan dan Direksi PT Arema Indonesia tersebut.
Sementara itu sebelumnya saat menghubungi Malang Post, HM Nur mengaku siap datang untuk dialog bersama pengurus lainnya. Hanya waktunya yang harus disesuaikan. Apalagi, dia mengaku selama ini komunikasi secara intensif terus dilakukan.
‘’Kalau sudah ada kepastian dan saya diberitahu, pasti saya akan datang. Karena selama ini komunikasi saya dengan pengurus yang lain masih lancar,’’ kata HM Nur, Selasa kemarin.
Senin, 28 Maret 2011
Cium Aroma LPI
MALANG -Persoalan dualisme hak suara Arema di Kongres PSSI, di Pekanbaru, Sabtu (26/3) kemarin terus berlanjut. Bahkan kini menjurus pada konflik internal pengurus Arema yang sejak beberapa waktu lalu sudah tak harmonis lagi.
Terbukti dinonaktifkannya Direktur PT Arema Indonesia, Siti Nurzanah yang saat itu disebut-sebut terlibat ikut mendaftarkan Arema gabung Liga Primer Indonesia (LPI). Meski Nurzanah sendiri mengaku tak pernah mendapat surat keputusan non aktif.
Termasuk Direktur Utama PT Arema Indonesia, Muhammad Nur akhirnya juga ‘diasingkan’ dari posisinya tersebut. Itu terkait dengan keterlibatannya dengan pihak LPI yang sempat mengklaim telah melakukan akuisisi tim Singo Edan.
Apalagi bukti-bukti berupa foto keterlibatan HM Nur dalam kegiatan LPI, sudah beredar luas. Bahkan sumber lain menyebut, HM Nur juga yang mendaftarkan Arema ikut dalam LPI.
Praktis, sejak bulan Oktober 2010 lalu, PT Arema Indonesia dikendalikan Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian. Sedangkan HM Nur dan Siti Nurzanah sudah tak pernah beraktifitas atau ngantor di sekretariat Arema seperti sebelumnya.
Namun mendadak keduanya muncul di acara Kongres PSSI dengan mengatas namakan perwakilan Arema. Sedangkan undangan untuk Arema diajukan kepada Presiden Klub Arema, Rendra Kresna yang selama ini memimpin Arema.
Rendra pun membanarkan bahwa undangan dari PSSI ditujukan kepadanya. Meski undangan itu akhirnya dimandatkan kepada pelaksana harian PT Arema Indonesia dalam hal ini Abriadi Muhara, lantaran Rendra berhalangan untuk datang.
Untuk itu, Abriadi yang hadir dalam acara Kongres tersebut dibuat heran dengan kehadiran HM Nur dan Siti Nurzanah. Khususnya dengan kedatangan HM Nur dan Siti Nurzanah yang didampingi orang-orang yang selama ini berseberangan dengan PSSI.
’’Saya lihat mereka (HM Nur dan Nurzanah) diantar orang-orang yang selama ini berseberangan dengan PSSI. Orang-orang itulah yang menemani mereka di Kongres itu,’’ ungkap Abriadi mencium aroma LPI dibalik ‘keberanian’ HM Nur dan Nurzanah.
’’Sekarang buat apa mereka ngotot-ngotot kalau tidak mau mengarahkan Arema ke kubunya Arifin Panigoro,’’ sambung pria asal Makassar yang juga Ketua Panpel Arema ini kepada Malang Post, kemarin sore.
Terlepas Kongres PSSI itu berakhir ricuh, menyusul ‘kudeta’ pihak-pihak yang merasa punya hak suara namun tak bisa ikut Kongres, konflik internal pengurus ini bisa mengancam keberlanjutan tim Arema ke depan.
Maklum, HM Nur meski sudah lama tak muncul, dirinya bersikukuh masih resmi sebagai Direktur PT Arema Indonesia. Mantan Sekda Kota Malang ini juga sekaligus sebagai Ketua Yayasan Arema, sesuai dengan akte notaris.
Secara de jure, HM Nur memang masih sebagai Ketua Yayasan, meski kepengurusan Yayasan Arema sebenarnya sudah vakum. Khususnya dengan mundurnya Sekretaris Yayasan Arema, Mujiono Mujito dan Bendahara Yayasan, Rendra Kresna.
Rendra tak lagi bisa menjabat sebagai Bendahara Yayasan terkait posisinya sebagai Bupati Malang. Namun mantan Wakil Bupati Malang ini oleh Yayasan telah diangkat sebagai President Klub Arema.
‘’Persoalan di kepengurusan Arema ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk kita, terutama setelah dari kongres PSSI di Pekanbaru kemarin. Saya ingin semua pihak bisa duduk satu meja untuk mambahas masalah ini,’’ ungkap Rendra kepada Malang Post.
‘’Kita tidak mau saat Arema kesulitan cari uang semuanya lari. Tapi begitu bicara soal hak suara, lalu ngaku-ngaku Arema. Kita harap Pembina Yayasan, Pengurus Yayasan dan Direksi bisa duduk satu meja,’’ sambungnya.
Rendra menjadwalkan minggu depan untuk bisa duduk satu meja dengan semua pengurus Arema tersebut. Kemungkinan tak hanya membahas persoalan internal pengurus, namun juga menyangkut krisis keuangan di Arema selama ini.
Sayangnya, lagi-lagi Malang Post kesulitan melakukan klarifikasi kepada HM Nur. Baik melalui ponsel maupun datang langsung ke rumah di kawasan Dieng. (bua/avi)
Read more..
Terbukti dinonaktifkannya Direktur PT Arema Indonesia, Siti Nurzanah yang saat itu disebut-sebut terlibat ikut mendaftarkan Arema gabung Liga Primer Indonesia (LPI). Meski Nurzanah sendiri mengaku tak pernah mendapat surat keputusan non aktif.
Termasuk Direktur Utama PT Arema Indonesia, Muhammad Nur akhirnya juga ‘diasingkan’ dari posisinya tersebut. Itu terkait dengan keterlibatannya dengan pihak LPI yang sempat mengklaim telah melakukan akuisisi tim Singo Edan.
Apalagi bukti-bukti berupa foto keterlibatan HM Nur dalam kegiatan LPI, sudah beredar luas. Bahkan sumber lain menyebut, HM Nur juga yang mendaftarkan Arema ikut dalam LPI.
Praktis, sejak bulan Oktober 2010 lalu, PT Arema Indonesia dikendalikan Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian. Sedangkan HM Nur dan Siti Nurzanah sudah tak pernah beraktifitas atau ngantor di sekretariat Arema seperti sebelumnya.
Namun mendadak keduanya muncul di acara Kongres PSSI dengan mengatas namakan perwakilan Arema. Sedangkan undangan untuk Arema diajukan kepada Presiden Klub Arema, Rendra Kresna yang selama ini memimpin Arema.
Rendra pun membanarkan bahwa undangan dari PSSI ditujukan kepadanya. Meski undangan itu akhirnya dimandatkan kepada pelaksana harian PT Arema Indonesia dalam hal ini Abriadi Muhara, lantaran Rendra berhalangan untuk datang.
Untuk itu, Abriadi yang hadir dalam acara Kongres tersebut dibuat heran dengan kehadiran HM Nur dan Siti Nurzanah. Khususnya dengan kedatangan HM Nur dan Siti Nurzanah yang didampingi orang-orang yang selama ini berseberangan dengan PSSI.
’’Saya lihat mereka (HM Nur dan Nurzanah) diantar orang-orang yang selama ini berseberangan dengan PSSI. Orang-orang itulah yang menemani mereka di Kongres itu,’’ ungkap Abriadi mencium aroma LPI dibalik ‘keberanian’ HM Nur dan Nurzanah.
’’Sekarang buat apa mereka ngotot-ngotot kalau tidak mau mengarahkan Arema ke kubunya Arifin Panigoro,’’ sambung pria asal Makassar yang juga Ketua Panpel Arema ini kepada Malang Post, kemarin sore.
Terlepas Kongres PSSI itu berakhir ricuh, menyusul ‘kudeta’ pihak-pihak yang merasa punya hak suara namun tak bisa ikut Kongres, konflik internal pengurus ini bisa mengancam keberlanjutan tim Arema ke depan.
Maklum, HM Nur meski sudah lama tak muncul, dirinya bersikukuh masih resmi sebagai Direktur PT Arema Indonesia. Mantan Sekda Kota Malang ini juga sekaligus sebagai Ketua Yayasan Arema, sesuai dengan akte notaris.
Secara de jure, HM Nur memang masih sebagai Ketua Yayasan, meski kepengurusan Yayasan Arema sebenarnya sudah vakum. Khususnya dengan mundurnya Sekretaris Yayasan Arema, Mujiono Mujito dan Bendahara Yayasan, Rendra Kresna.
Rendra tak lagi bisa menjabat sebagai Bendahara Yayasan terkait posisinya sebagai Bupati Malang. Namun mantan Wakil Bupati Malang ini oleh Yayasan telah diangkat sebagai President Klub Arema.
‘’Persoalan di kepengurusan Arema ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk kita, terutama setelah dari kongres PSSI di Pekanbaru kemarin. Saya ingin semua pihak bisa duduk satu meja untuk mambahas masalah ini,’’ ungkap Rendra kepada Malang Post.
‘’Kita tidak mau saat Arema kesulitan cari uang semuanya lari. Tapi begitu bicara soal hak suara, lalu ngaku-ngaku Arema. Kita harap Pembina Yayasan, Pengurus Yayasan dan Direksi bisa duduk satu meja,’’ sambungnya.
Rendra menjadwalkan minggu depan untuk bisa duduk satu meja dengan semua pengurus Arema tersebut. Kemungkinan tak hanya membahas persoalan internal pengurus, namun juga menyangkut krisis keuangan di Arema selama ini.
Sayangnya, lagi-lagi Malang Post kesulitan melakukan klarifikasi kepada HM Nur. Baik melalui ponsel maupun datang langsung ke rumah di kawasan Dieng. (bua/avi)
LPI : Pak Nur Daftarkan Arema ke LPI
Quote:
MALANG – Kengototan HM Nur dan Siti Nurzanah untuk hadir sebagai wakil Arema dalam kongres PSSI di Riau, tampaknya benar-benar tak bisa dipisahkan dari Liga Primer Indonesia.Karena sejak awal, HM Nur yang mendaftarkan Arema untuk bergabung dengan LPI. Bahkan, Arema menjadi tim pertama yang menerima dana dari konsorsium LPI senilai Rp 1,5 miliar. Padahal, dana itu sedianya diberikan kepada Persebaya. Dalam perkembangannya, Arema sendiri sudah mengembalikan dana itu ke LPI.
’’Sebenarnya tim pertama yang daftar Persebaya. Tapi karena Arema yang butuh uang, Arema menjadi tim pertama yang mendapat kucuran dana dari konsorsium LPI. Yang mendaftarkan Arema ke LPI adalah Pak Nur. Karena beliau Ketua Yayasan dan ada legalitas formalnya,’’ tandas Abi Hasantoso, juru bicara LPI, kepada Malang Post, kemarin.
Dia juga mengakui, sampai saat ini komunikasi antara LPI dan HM Nur masih terus dijalin dengan harmonis. Karena itulah, LPI tetap yakin Arema akan mau bergabung dengan kompetisi yang digagas oleh Arifin Panigoro tersebut.
Bahkan HM Nur juga selalu hadir dalam aktivitas yang dilakukan LPI. Termasuk diantaranya adalah menghadiri ulang tahun Arifin Panigoro pada 14 Maret lalu di Jakarta.
’’Saya sendiri terakhir ketemu Pak Nur saat ulang tahun Pak Arifin di Jakarta. Tapi kalau komunikasi lewat telepon, terus terjalin. Bagi kami, kompetisi yang cocok untuk Arema memang di LPI. Karena di kompetisi ini, sangat tepat untuk tim profesional seperti Arema,’’ tegasnya.
Terpisah, Siti Nurzanah mengakui kalau kedatangannya ke Riau karena ada instruksi. Namun kepada Malang Post, dia tidak banyak memberikan keterangan.
‘’Sesuai dengan struktur, sebaiknya bicara dengan Pak Nur saja, biar satu pintu,’’ demikian ungkap Nurzanah saat pertama menjawab konfirmasi Malang Post setelah sehari sebelumnya sulit untuk dihubungi.
Lebih lanjut, Nurzanah mengaku sesuai struktur dalam hal ini dirinya masih sebagai Direktur PT Arema Indonesia. Artinya Direktur yang membawahi tim marketing Arema tersebut selama ini masih belum tergantikan posisinya.
‘’Kalau dicabut, apa sudah ada surat pencabutannya. Sampai sekarang belum ada SK (Surat Keputusan) pencabutan (dari posisi Direktur) itu,’’ yakin Nurzanah memastikan statusnya masih sebagai pengurus Arema.
Sementara terkait dengan ketidakmunculannya selama ini, wanita berjilbab ini mengaku memang non aktif. Namun posisi non aktif ini rupanya dimaknai masih tetap sebagai pengurus Arema, sehingga terhitung punya hak di Arema.
Kebetulan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya dikeluarkan oleh Yayasan Arema, dalam hal ini diketuai oleh HM Nur. Sehingga wajar jika HM Nur dan Nurzanah masih tetap pengurus selama Yayasan tak mencabut SK tersebut.
’’Meski saya non aktif, saya masih sering komunikasi dengan Pak Nur. Saya kerja sesuai dengan akte dan legalitas yang saya miliki. Saya ikut perintah saja,’’ sebut Nurzanah perihal aktifitasnya selama ini, termasuk hadir di Kongres.
Sementara itu, perihal keterlibatannya dengan LPI, Nurzanah membiarkan spekulasi tersebut. Menurut pengakuannya, saat ini sudah tidak lagi membicarakan seputar LPI dan persaingannya dengan ISL (Indonesia Super League).
’’Sekarang kita bicara revolusi PSSI, silahkan persepsi soal itu (terkait LPI), sekarang kita bicara bagaimana revolusi PSSI, untuk perbaikan PSSI,’’ sebut Nurzanah mengaku masih punya komitmen untuk menghidupkan Arema.
Lebih jauh, wanita yang juga pengusaha pupuk ini kembali meyakinkan persoalan sekarang bukan lagi seputar mendukung LPI atau ISL. Meski jalur yang ditempuh Nurzanah bersama HM Nur tampaknya tanpa ada koordinasi dengan pengurus Arema lainnya. (bua/poy/avi)
Kehilangan Esteban Karena Cedera Berat
MALANG-Tak hanya rugi besar dengan hasil imbang 1-1 saat ditahan Sriwijaya FC, tim Arema juga harus membayar mahal. Satu gelandang asing Arema, Esteban Gullien mengalami cedera hamstring cukup parah.
Cedera tersebut didapatnya saat pertandingan berjalan 41 menit, Esteban jatuh salah tumpuan karena lubang di lapangan. Untuk itu, menit 44, gelandang asal Uruguay itu ditandu keluar dan digantikan Hendra Ridwan.
“Esteban cedera hamstring, karena lapangan tidak bagus. Dia cedera setelah salah tumpuan karena ada lubang di lapangan, sekarang di ke rumah sakit untuk periksa,” ungkap pelatih Arema, Miroslav Janu.
Usai dilakukan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) di rumah sakit Mitra Keluarga, Surabaya, kemarin siang, Esteban pun divonis harus istirahat total minimal empat minggu atau paling cepat tiga minggu.
Hal ini tentu menjadi kerugian besar bagi Arema, lantaran Esteban sangat dibutuhkan untuk menghidupkan lini tengah Arema. Seperti saat lawan Sriwijaya FC, begitu Esteban ditarik keluar, Miro mengaku kekuatan lini tengahnya berkurang.
“Dari hasil foto di Surabaya ini, Esteban positif ada robekan grade dua di otot hamstring kanan, nanti di Malang kita konsultasikan lagi ke dokter orthopedic untuk program selanjutnya. Diperkirakan minim istirahat empat sampai enam minggu,” terang dokter tim Arema, Albert Rudianto.
Jika benar harus istirahat selama empat minggu atau satu bulan, maka Esteban sedikitnya akan melewati tujuh pertandingan selama bulan April nanti. Kebetulan pada bulan tersebut Arema harus melakoni jadwal padat, kompetisi Indonesia Super League dan Liga Champions Asia.
“Ya, sesuai kata dokter, ototnya robek. Jadi saya pikir selama tiga minggu kedepan saya akan susah untuk bisa ikut pertandingan resmi,” sebut Esteban saat dikonfirmasi Malang Post kemarin sore.
Tiga minggu itu kemungkinan waktu tercepat untuk sembuh, atau bisa mulai latihan normal. Namun untuk bisa mengembalikan performa terbaiknya seperti sebelum cedera, tentu juga butuh waktu sekitar satu minggu itu.
Tujuh pertandingan yang tampaknya bakal ditinggalkan Esteban yaitu Arema menghadapi Persib Bandung (1/4), Persija Jakarta (10/4), PSPS Pekanbaru (15/4), Pelita Jaya (24/4), Semen Padang (28/4) dan dua laga LCA home-away lawan Shandong Luneng FC (5/4, 20/4).
“Saya sangat sedih karena ini momen ketentuan peluang Arema untuk raih juara, dan saya tidak bisa Bantu. Tapi saya percaya pada teman-temanku,” yakin Esteban mengisahkan cederanya tersebut memang didapat karena ada lubang.
“Jadi pada saat pemain Sriwijaya FC, Kim Yong Hee mau crossing, saya coba belok, pas mau injak tanah ada lubang yang membuatku salah injak dan menarik hamstringku,” jelasnya kepada Malang Post, kemarin sore. (bua/jon)
Read more..
Cedera tersebut didapatnya saat pertandingan berjalan 41 menit, Esteban jatuh salah tumpuan karena lubang di lapangan. Untuk itu, menit 44, gelandang asal Uruguay itu ditandu keluar dan digantikan Hendra Ridwan.
“Esteban cedera hamstring, karena lapangan tidak bagus. Dia cedera setelah salah tumpuan karena ada lubang di lapangan, sekarang di ke rumah sakit untuk periksa,” ungkap pelatih Arema, Miroslav Janu.
Usai dilakukan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) di rumah sakit Mitra Keluarga, Surabaya, kemarin siang, Esteban pun divonis harus istirahat total minimal empat minggu atau paling cepat tiga minggu.
Hal ini tentu menjadi kerugian besar bagi Arema, lantaran Esteban sangat dibutuhkan untuk menghidupkan lini tengah Arema. Seperti saat lawan Sriwijaya FC, begitu Esteban ditarik keluar, Miro mengaku kekuatan lini tengahnya berkurang.
“Dari hasil foto di Surabaya ini, Esteban positif ada robekan grade dua di otot hamstring kanan, nanti di Malang kita konsultasikan lagi ke dokter orthopedic untuk program selanjutnya. Diperkirakan minim istirahat empat sampai enam minggu,” terang dokter tim Arema, Albert Rudianto.
Jika benar harus istirahat selama empat minggu atau satu bulan, maka Esteban sedikitnya akan melewati tujuh pertandingan selama bulan April nanti. Kebetulan pada bulan tersebut Arema harus melakoni jadwal padat, kompetisi Indonesia Super League dan Liga Champions Asia.
“Ya, sesuai kata dokter, ototnya robek. Jadi saya pikir selama tiga minggu kedepan saya akan susah untuk bisa ikut pertandingan resmi,” sebut Esteban saat dikonfirmasi Malang Post kemarin sore.
Tiga minggu itu kemungkinan waktu tercepat untuk sembuh, atau bisa mulai latihan normal. Namun untuk bisa mengembalikan performa terbaiknya seperti sebelum cedera, tentu juga butuh waktu sekitar satu minggu itu.
Tujuh pertandingan yang tampaknya bakal ditinggalkan Esteban yaitu Arema menghadapi Persib Bandung (1/4), Persija Jakarta (10/4), PSPS Pekanbaru (15/4), Pelita Jaya (24/4), Semen Padang (28/4) dan dua laga LCA home-away lawan Shandong Luneng FC (5/4, 20/4).
“Saya sangat sedih karena ini momen ketentuan peluang Arema untuk raih juara, dan saya tidak bisa Bantu. Tapi saya percaya pada teman-temanku,” yakin Esteban mengisahkan cederanya tersebut memang didapat karena ada lubang.
“Jadi pada saat pemain Sriwijaya FC, Kim Yong Hee mau crossing, saya coba belok, pas mau injak tanah ada lubang yang membuatku salah injak dan menarik hamstringku,” jelasnya kepada Malang Post, kemarin sore. (bua/jon)
Minggu, 27 Maret 2011
Arema Terimbas Kisruh Kongres
MALANG – Kisruh dalam Kongres PSSI untuk memilih Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP), tampaknya juga menjalar ke Arema.
Betapa tidak, di arena kongres di Hotel Primiere Pekanbaru, ternyata ada dua kubu yang menjadi wakil Arema. Kubu pertama diwakili Pelaksana Harian, Abriadi Muhara, yang datang dengan membawa undangan resmi PSSI.
Kubu kedua, diisi HM Nur dan Siti Nurjanah. Menariknya, Nur dan Siti Nurjanah tidak membawa undangan.
Tapi keduanya bermodal akte notaris yang masih tercantum nama HM Nur sebagai Ketua Yayasan PS Arema. Termasuk Siti Nurjanah sebagai Direktur PT Arema Indonesia.
Kedua orang yang sudah lama tak aktif di Arema itu, ngotot mewakili Arema. Menariknya, HM Nur dan Siti Nurjanah dibackup penuh oleh Komisi Penyelamat Persepakbolaan Nasional (KPPN) dan puluhan orang berbadan tegap dan berambut cepak.
Bahkan akibat desakan keduanya dan pressure yang dilakukan ’suporter’ HM Nur, bagian registrasi pendaftaran sempat mencatat keduanya sebagai wakil Arema. Tetapi setelah Abriadi menunjukkan undangan resmi, nama HM Nur dan Siti Nurjanah kembali dicoret dan digantikan Abriadi.
Bukan itu saja, Abriadi yang merasa mendapat mandat dari Arema, sempat beradu mulut dengan ’suporter’ HM Nur dan Siti Nurjanah. Beruntung ketegangan itu tidak sampai berlanjut lebih parah lagi.
Dikonfirmasi kondisi tersebut, Abriadi membenarkan. Menurut dia, kehadirannya di kongres benar-benar atas nama Arema. Apalagi dia sudah membawa mandat dari Presiden Arema, Rendra Kresna.
’’Undangan PSSI sudah jelas. Ditujukan kepada Presiden Arema, Rendra Kresna. Saya datang membawa mandat beliau, lengkap dengan surat mandat. Karena itu, saya diizinkan masuk ke arena kongres,’’ ujar Abriadi.
Yang dia sesalkan adalah sikap HM Nur dan Siti Nurjanah, yang datang atas nama Arema. Padahal, kata dia, keduanya sudah tidak aktif lagi sejak Oktober 2010 lalu. Sejak itu, keduanya tidak pernah terlibat dalam aktivitas Arema.
’’Kalau mereka mengaku-aku menjadi wakil Arema, justru patut dipertanyakan. Kemana saja mereka selama ini. Mereka tidak pernah muncul ketika kita sedang ada masalah. Jangankan membantu, muncul saja tidak pernah,’’ tegas Abriadi.
Padahal, selama ini pengurus Arema lainnya berusaha untuk menghubungi HM Nur. Kenyataannya, mantan Sekkota Malang itu seperti hilang ditelan bumi.
’’Tiba-tiba saja keduanya muncul membawa nama Arema. Sementara saat dibutuhkan, keduanya tak pernah muncul. Lebih parah lagi, keduanya seperti dibackup penuh oleh orang seberang,’’ kata Abriadi tanpa mau menjelaskan arti ’orang seberang’ tersebut.
Disinggung soal status HM Nur dan Siti Nurjanah itu sendiri, Abriadi mengaku, secara de jure, keduanya memang masih tercantum dalam akte notaris terkait Yayasan Arema. Tetapi secara de facto, keduanya sudah non aktif.
’’Soal status resmi mereka berdua, biar Yayasan yang menyelesaikan. Saya hanya ditugaskan untuk menjadi pelaksana harian. Saya tidak berkompeten menjawab soal status mereka. Yang bisa saya jawab, keduanya sudah tidak aktif lagi di Arema sejak Oktober 2010,’’ tegas pria asal Makassar ini.
Sayangnya, ketika Malang Post mencoba konfirmasi kepada HM Nur maupun Siti Nurjanah, tidak mendapatkan jawaban. Baik melalui telepon maupun sms, keduanya tidak memberikan respon. (bua/avi)
Read more..
Betapa tidak, di arena kongres di Hotel Primiere Pekanbaru, ternyata ada dua kubu yang menjadi wakil Arema. Kubu pertama diwakili Pelaksana Harian, Abriadi Muhara, yang datang dengan membawa undangan resmi PSSI.
Kubu kedua, diisi HM Nur dan Siti Nurjanah. Menariknya, Nur dan Siti Nurjanah tidak membawa undangan.
Tapi keduanya bermodal akte notaris yang masih tercantum nama HM Nur sebagai Ketua Yayasan PS Arema. Termasuk Siti Nurjanah sebagai Direktur PT Arema Indonesia.
Kedua orang yang sudah lama tak aktif di Arema itu, ngotot mewakili Arema. Menariknya, HM Nur dan Siti Nurjanah dibackup penuh oleh Komisi Penyelamat Persepakbolaan Nasional (KPPN) dan puluhan orang berbadan tegap dan berambut cepak.
Bahkan akibat desakan keduanya dan pressure yang dilakukan ’suporter’ HM Nur, bagian registrasi pendaftaran sempat mencatat keduanya sebagai wakil Arema. Tetapi setelah Abriadi menunjukkan undangan resmi, nama HM Nur dan Siti Nurjanah kembali dicoret dan digantikan Abriadi.
Bukan itu saja, Abriadi yang merasa mendapat mandat dari Arema, sempat beradu mulut dengan ’suporter’ HM Nur dan Siti Nurjanah. Beruntung ketegangan itu tidak sampai berlanjut lebih parah lagi.
Dikonfirmasi kondisi tersebut, Abriadi membenarkan. Menurut dia, kehadirannya di kongres benar-benar atas nama Arema. Apalagi dia sudah membawa mandat dari Presiden Arema, Rendra Kresna.
’’Undangan PSSI sudah jelas. Ditujukan kepada Presiden Arema, Rendra Kresna. Saya datang membawa mandat beliau, lengkap dengan surat mandat. Karena itu, saya diizinkan masuk ke arena kongres,’’ ujar Abriadi.
Yang dia sesalkan adalah sikap HM Nur dan Siti Nurjanah, yang datang atas nama Arema. Padahal, kata dia, keduanya sudah tidak aktif lagi sejak Oktober 2010 lalu. Sejak itu, keduanya tidak pernah terlibat dalam aktivitas Arema.
’’Kalau mereka mengaku-aku menjadi wakil Arema, justru patut dipertanyakan. Kemana saja mereka selama ini. Mereka tidak pernah muncul ketika kita sedang ada masalah. Jangankan membantu, muncul saja tidak pernah,’’ tegas Abriadi.
Padahal, selama ini pengurus Arema lainnya berusaha untuk menghubungi HM Nur. Kenyataannya, mantan Sekkota Malang itu seperti hilang ditelan bumi.
’’Tiba-tiba saja keduanya muncul membawa nama Arema. Sementara saat dibutuhkan, keduanya tak pernah muncul. Lebih parah lagi, keduanya seperti dibackup penuh oleh orang seberang,’’ kata Abriadi tanpa mau menjelaskan arti ’orang seberang’ tersebut.
Disinggung soal status HM Nur dan Siti Nurjanah itu sendiri, Abriadi mengaku, secara de jure, keduanya memang masih tercantum dalam akte notaris terkait Yayasan Arema. Tetapi secara de facto, keduanya sudah non aktif.
’’Soal status resmi mereka berdua, biar Yayasan yang menyelesaikan. Saya hanya ditugaskan untuk menjadi pelaksana harian. Saya tidak berkompeten menjawab soal status mereka. Yang bisa saya jawab, keduanya sudah tidak aktif lagi di Arema sejak Oktober 2010,’’ tegas pria asal Makassar ini.
Sayangnya, ketika Malang Post mencoba konfirmasi kepada HM Nur maupun Siti Nurjanah, tidak mendapatkan jawaban. Baik melalui telepon maupun sms, keduanya tidak memberikan respon. (bua/avi)