Sabtu, 05 Februari 2011

Jelang Arema Vs Persipura - Persipura Nilai Dukungan Aremania Tak Berpengaruh

Asisten Pelatih Persipura Alan Hafiluddin.



Sabtu, 05 Februari 2011 17:28:57 WIB
Reporter : Yatimul Ainun

Malang (beritajatim.com) – Masuk kandang Arema, berarti masuk kandang singa. Secara otomatis, harus siap diterkam oleh Singa. Begitulah slogan warga Bhumi Arema. Namun, bagi Asisten Pelatih Persipura Jayapura, Alan Hafiluddin tidak demikian. Dia menilai, dukungan ribuan Aremania nantinya, tak akan berpengaruh bagi Boaz Salossa dkk.

“Soal banyaknya suporter Aremania di stadion nantinya, tidak berpengaruh bagi pemain kami. Kita sudah terbiasa main di kandang lawan yang didukung ribuan suporter. Target kita tetap bagaimana mampu mencuri poin penuh,” tegasnya, saat melakukan jumpa pers, Sabtu (5/2/2011), di kantor Arema.

Yang penting, jelas Alan, Persipura tetap punya target. Soal menang, belakangan. “Hasil itu belakangan. Yang jelang, kita datang ke Malang ini punya target. Minimal, dapat poin 1. Kalaupun nantinya, tidak bisa dapat poin, berarti tuhan masih belum mengabulkan keinginan kita,” katanya santai.

Dia mengaku, Arema itu tim solid, bukan tim kecil. “Semua pemain harus kerja keras. Arema itu diisi dengan pemain yang berkualitas dan berpengalaman, juga tangguh. Karena, semua klub di ISL itu adalah tim tangguh semua,” tuturnya.

Ditanya apa ada tim yang tidak bisa main? Alan menjawab, hanya ada tiga pemain yang absen, tidak bisa dimainkan. Yakni, Ricardo Salampessy, Titus Bonay dan David Lally. “Ketiganya, dua gabung di timnas, dan satu lagi, mengalami cedera,” katanya.

Selain itu tambah Alan, semua pemain yang dibawa ke Malang, sudah siap diturunakan melawan Arema. “Tak ada akumulasi kartu. Semua pemain sudah siap main. Kita sudah mulai latihan di Kota Batu,” akunya.

Ditanya apakah tidak ada pengaruh tidak bisa latihan di Stadion Kanjuruhan? Alan mengaku, walaupun tidak bisa latihan di Kanjuruhan, tidak ada masalah. “Tak ada masalah. Sejak dulu, kita sudah sering bermain di Stadion Kanjuruhan. Sudah bisa mengusai lapangan,” katanya.

Alan juga menambahkan, pihaknya sudah percaya sepanuhnya kepada tim tuan rumah. “Saya sudah percaya Arema. Kita tidak akan saling curiga. Harapan saya, nanti bermain fair play,” katanya. [ain/but]


silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Hemat. Beib.. !!!

Menjelang laga kandang melawan Persipura Jayapura 6 Februari besok Arema Indonesia mendapatkan kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baik yang diterima oleh Arema Indonesia tidak lain adalah masuknya sponsor baru yakni Axis yang akan mensponsori tim Arema Indonesia pada lanjutan kompetisi ISL 2010/2011 sampai selesai.

Kabar baik ini tentu saja membuat keuangan Arema Indonesia semakin positif perkembangannya. Apalagi dalam beberapa pekan terakhir Arema diterpa kabar krisis keuangan. Tentu saja kehadiran Axis seakan sebagai8 oase disaat Arema dilanda krisis, sekaligus menutup defisit keuangan.

Media Officer Arema FC Sudarmaji mengakui klubnya telah terjadi kesepakatan kerja sama dengan Axis hingga akhir musim nanti. Sebagai seremoni kerja sama, bakal digelar acara khusus menjelang pertandingan Arema kontra Persipura Jayapura di Stadion Kanjuruhan, besok. Dengan kerja sama tersebut, Axis bakal menghiasi perjalanan Arema, antara lain di dalam stadion serta jersey Ahmad Bustomi dkk pada setiap pertandingan yang dilakoninya.



Axis akan menemani perjalanan Arema Indonesia

"Ya, Arema dan Axiz sudah deal, kita kemarin maunya induk kerjasamanya harus ditandatangani dulu, tapi resminya nanti akan digelar launching bersama sebelum pertandingan Arema lawan Persipura" jelas mantan Wartawan ini. "Untuk kompensasi Arema kepada Axis adalah branding di venue stadion, mulai scorring board, a-board, branding VIP dan VVIP, tiket, bus dan jersey tim Arema", sambung Darmaji.

Manajemen Arema melalui Arema Indonesia Organizer (AIO) telah menyiapkan serangkaian acara untuk launching tersebut. Seperti yang dirilis AIO, launching sponsor salah satu operator telekomunikasi tersebut bertitle "Arema Semakin Axis". Arema semakin AXIS ini merupakan representasi dari Klub Arema Indonesia yang semakin eksis di musim kompetisi 2010/2011. Khususnya dengan penampilan tim Arema yang musim ini akan berlaga di Liga Champion Asia.

Sementara kabar kurang enak didapatkan Arema dari dua pemain barunya, Kiper Syaifuddin dan Hendra Ridwan yang terancam tak bisa memperkuat Arema pada laga besok. Sebenarnya pihak manajemen telah mendaftarkan keduanya pada Badan Liga Indonesia (BLI) akan tetapi belum mendapatkan jawaban sampai berita ini diturunkan.

Media Officer Arema Indonesia, Sudarmadji, dikonfirmasi Jumat menjelaskan, manajemen Arema telah mendaftarkan kedua pemain tersebut ke Badan Liga Indonesia (BLI), namun belum mendapat jawaban resmi dari BLI.

Meski demikian, pihaknya tetap berharap agar kedua pemain itu bisa diturunkan saat meladeni Persipura di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Jawa Timur. "Kita sudah daftarkan mereka berdua dan berharap segera mendapat jawaban dari BLI agar bisa diturunkan saat menjamu Persipura, sebab kalau belum mendapat jawaban maka kedua pemain tersebut tidak akan bisa memperkuat Arema," ucapnya.

"Kami mohon doanya agar diberi kelancaran kepada kedua pemain tersebut, supaya rekomendasi dari BLI segera turun dan memperkuat tim," tambahnya.

Arema Indonesia pada laga besok dipastikan tidak akan turun dengan skuad terbaiknya, Kiper Kurina Meiga, Dendi Santoso, Yongki Aribowo serta Alfaridzi dipastikan absen karena mengikuti Pelatnas Timnas U-23. Sedangkan Leonard Tupamahu yang sempat cedera masih menunggu perkembangan terakhir mengenai cederanya dari tim dokter. Satu lagi pemain yang masih menunggu perkembangan terakhir untuk dapat turun pada laga besok adalah Ahmad Kurniawan yang sakit.


silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Jelang Arema Vs Persipura - Arema Optimistis Taklukkan Persipura

Sabtu, 05 Februari 2011 17:15:19 WIB
Reporter : Yatimul Ainun

Malang (beritajatim.com) – Diakui atau tidak Persipura Jayapura, adalah tim kuat. Klub berjuluk Mutiara Hitam itu menjadi salah satu kandidat kuat sebagai kampiun di Kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim ini (2010/2011).

Namun, Arema tak gentar menjamu anak asuh Jacsen F Tiago itu. Dalam laga home lanjutan kompetisi Indonesia Super League (ISL) misim ini, yang akan digelar di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen Kabupaten Malang, Minggu (6/2/2011) klub berlogo kepala Singa itu optimis mampu menaklukkan Persipura, di depan ribuan suporternya, Aremania.

“Yang jelas, target poin maksimal. Setiap laga home harus maksimal. Tidak hanya saat lawan Persipura. Tim manapun, yang menjadi tamu Arema, kita harus tampil maksimal,” kata Asisten Pelatih Arema, Joko ‘Gethuk’ Susilo, saat melakukan jumpa pers di kantor Arema, di Jl Sultan Agung, Kota Malang, Sabtu (5/2/2011).

Gethuk mengaku, Persipura bukan tim lemah. Persipura adalah tim kuat dan dihuni pemain bagus, yang layak bermain di timnas. “Persipura tim bagus, dihuni pemain bagus-bagus. Hasilnya saat ini juga maksimal. Makanya tak bisa dianggap enteng,” akunya.

Namun, sebagai tim juara bertahan, Arema tak harus gentar menghadapi anak didik Jacksen. “Kita ingin dapat poin penuh, dengan permainanan yang sportif. Semua pemain Persipura harus diwaspadai. Karena sepakbola itu bermain dengan tim, bukan individu,” katanya.

Lebih lanjut Ghetuk mengatakan, Arema mengalam sedikit masalah dengan dua pilar pemainnya. Yakni Ahmad Bustomi dan Leonard Tupamahu, yang keduanya masih mengalami cedera. “Untuk Leonard, belum bisa dipastikan bisa main besok. Kita masih menunggu sore ini,” katanya.

Untuk Bostomi, aku Ghetuk, juga sama. “Bustomi juga belum bisa dinyatakan bisa turun. Kita tunggu sore ini. Kalau dia sembuh total, bisa diturunkan nanti. Semoga saja, sudah sembuh. Namun, kebijakan semua itu, apa kata pelatih,” katanya.

Kalau kedua pemain pilar Arema itu tidak bisa dimainkan jelas Ghetuk, ada banyak pemain yang sudah disiapkan. Di antaranya, untuk Bustomi, ada Hendra, Juan Revi Auriqto. “Untuk pengganti Leonard, kalau tak bisa turun, ada Hermawan. Yang jelas apa kata Pelatih diturunkan apa tidak,” katanya tegas. [ain/but]

================================================== ===

silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Selasa, 01 Februari 2011

Dinilai Sia-sia, Aremania Tolak Ajakan Damai dengan Persikmania-Bonek

Niat baik Polresta Kediri ingin mendamaikan suporter sepakbola, terutama Aremania dengan Persikmania dan Bonek, sepertinya bertepuk sebelah tangan.

Pasalnya, meski niat tersebut cukup baik, namun bagi Aremania gagasan itu hanya akan sia-sia saja. Maka dari itu, pihak Aremania memastikan tidak akan hadir dalam acara yang rencananya digelar pekan ini di Mapolresta Kediri.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polresta Kediri berencana mempertemuan suporter Persik Kediri (Persikmania), suporter Arema Malang (Aremania) dan suporter Persebaya 1927 (Bonekmania) pasca terjadi insiden kerusuhan di Stasiun Kereta Api Kota Kediri, dimana rombongan Aremania yang hendak pulang ke Malang dilempari batu oleh oknum Persikmania.

"Kami akan segera mengagendakan pertemuan tiga wilayah itu. Kami tidak ingin aksi saling serang antara pendukung klub sepak bola ini terjadi secara terus-menerus dan tidak ada solusinya," kata Wakapolresta Kediri Kompol Kuwadi, Selasa (11/1/2011) lalu.

Rencanannya, tiga elemen suporter itu akan diminta membuat kesepakatan damai untuk mencegah bentrokan yang kerap terjadi di sepanjang jalur kereta api. "Tujuan kami hanya ingin mendamaikan mereka. Kami sudah mengundang masing-masing koordinator suporter," akunya.

Namun, setelah mencoba menghubngi salah satu Korwil Aremania di Kota Malang, yakni koorwil Aremania Stasiun Kota Baru, Tembel, pada Senin (31/1/2011) sore, pihaknya mengaku tak pernah dihubungi dan menerima undangan pertemuan tersebut.

"Di Aremania itu tak ada ketuanya. Undangan itu ditujukan kepada siapa. Saya tidak menerima. Dan yang jelas, saya pribadi tidak mau. Begitu juga Aremania lainnya. Saya tidak tahu kalau Aremania ada yang mau hadir. Monggo kalau ada Aremania yang mau hadir," katanya.

Tembel mengaku, pertemuan sejenis sudah sering dilakukan. Namun hasilnya nihil. "Malang-Subaya sudah sering melakukan pertemuan. Saat pak Da'i Bakhtiar jadi Kapolda Jatim, sudah pernah ada pertemuan. Tapi tak ada hasilnya. Apalagi yang menggelar pertemuan sekelas Polresta," katanya.

Yang sulit untuk berdamai itu, aku Tembel, pada ditingkat grass root. "Yang jelas, secara pribadi, saya tidak terima. Sebaiknya tak usah pertemuan, namun, masing-masing suporter harus melakukan evaluasi diri. Persikmania, harus belajar sama Deltamania, yang saat ini sudah berdamai dengan Aremania. Dulu bermusuhan, kenapa sekarang bisa damai," katanya.

Dulu, kata Tembel, Aremania sudah berupaya untuk berdamai dengan Persikmania. Namun, Persikmania yang tetap menganggap Aremania musuh. Padahal, pada pembakaran Stadion Brawijaya oleh Aremania pada Liga Indonesia, Januari 2007 silam, Aremania hanya brutal di dalam stadion, tidak melakukan kerusuhan di luar stadion.

Yang terpenting, kata Tembel, masing-masing suporter itu sama-sama menghilangkan provokasi. "Misalnya, saat mau masuk ke Kediri, ada spanduk bertuliskan 'Kediri Kuburan Aremania'. Provokasi seperti itu harus ditiadakan," harapnya.

Tidak usah pertemuan tersebut, pertemuan yang digagas oleh suporter Indonesia, tambah tembel, seperti menggelar Jambore suporter Indonesia di Bogor, dan pertemuan lainnya, hasilnya masih saja nihil.

"Yang jelas, Aremania menolak pertemuan itu. Dan lagi, ngapain ada Bonek segala. Kasus pelemparan di Kediri itu bukan dengan Bonek. Ngapain melibatkan Bonek segala. Mari masing-masing suporter evaluasi diri. Persikmania harus banyak belajar ke Deltamania," ujarnya.
[ain/kun]


silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Sam Ikul Siap Turun Gunung Damaikan Aremania-Persikmania-Bonek

Salah satu pendiri Arema benar-benar rindu akan perdamaian suporter di Jatim yang selama ini sering terlibat konflik. Khususnya, suporter dari tiga kota yakni Malang, Kediri dan Surabaya.

"Saya sudah rindu kedamaian, saya sangat setuju Persikmania, Bonek dan Aremania berdamai. Saya setuju ide Polresta Kediri yang ingin mempertemukan tiga suporter itu. Tapi, syratnya harus ditempat yang netral," kata pendiri Arema, Lucky Acub Zainal, yang karib disapa Sam Ikul itu, Selasa (1/2/2011), di rumahnya.

Selain itu, pihaknya juga berharap, agar pertemuan itu tidak hanya berbentuk nota damai bersifat secara tertulis. "Kata damai dari masing-masing suporter itu, harus berlandaskan dari hati masing-masing suporter. Betul-betul ada keinginan untuk damai. Tidak hanya sekedar pertemuan semata," jelasnya.

Kata damai itu, beber Sam Ikul, tidah harus saling peluk mesra, berangkulan satu sama lainnya. Saling menghormati dan tidak berbuat anarkis dan berbuat ulah yang merugikan banyak kalangan itu sudah lebih dari kata damai. "Saat ini tidak demikian. Dengan tegas, saya sangat setuju ide kepolisian Kota Kediri itu yang akan mendamaikan Persikmania, Bonek dan Aremania. Aremania harus siap hadir," katanya.

Lebih lanjut, Sam Ikul berharap, pertemuan tersebut harus didukung oleh semua pihak. Terutama pihak manajemen di masing-masing klub. "Kalau perlu, saya yang akan turun sendiri hadir ke pertemuan tersebut. Bahkan, saya siap turun menjelaskan kepada masyarakat di sekitar stasiun di Kediri," tegasnya.

Upaya untuk mendamaikan suporter, kata Sam Ikul, tidah hanya datang dari pihak kepolisian dan para suporter, namun juga ada upaya dari pihak manajemen. "Seharusnya, pihak manajemen harus selalu berupaya bagaimana masing-masing suporter berdamai. Karena bukan hal mustahil antar suporter itu bisa berdamai," katanya.

Kalau permusuhan antar suporter tidak segera diselesaikan, kata Sam Ikul, sangat berbahaya. Makanya, harus segera diselesaikan. Pertama jelasnya, harus dilakukan dialog, lalu peran aktif dari pemerintahan setempat. "Jangan sampai ada kata lha opo ketemu Bonek, lha opo ketemu Aremania, sikap dan perkataan demikian harus ditiadakan," katanya tegas.

Saat ini, cerita Sam Ikul, ulah para suporter sudah keterlaluan. Bukan hanya saling lembar dan saling ejek, tapi sudah saling bunuh, hal itulah yang sangat berbahaya. "Saya sudah kesel, capek mendengar dan melihat ulah suporter saat ini. Harus mulai membuka lembaran baru dengan komitmen damai," ajaknya.

Dia juga memberikan solusi, untuk mendamaikan suporter di Indonesia itu, cukup diambil tiga lintas. Yakni, Viking (Persib Bandung), Bonek (Persebaya 1927), dan Aremania (Arema Malang). "Kalau ketiganya sudah berdamai, suporter lainnya juga akan ikut berdamai. Ketiga suporter itu yang harus didamaikan," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Korwil Aremania Stasiun Kota Baru, Tembel, saat dihubungi , menolak untuk berdamai dengan Persikmania, dan Bonekmania. Alasannya, pertemuan yang akan digagas pihak Kepolisian Kota Kediri itu tak akan mampu mendamaikan ketiga suporter itu.

"Yang jelas, Aremania menolak pertemuan itu. Dan lagi, ngapain ada bonek segala. Kasus pelemparan di Kediri itu bukan dengan bonek. Ngapain melibatkan bonek segala. Mari masing-masing suporter evaluasi diri. Persikmania harus banyak belajar ke Deltamania," ujarnya Tembel.
[ain/kun]


silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Kami Merindukan Aremania di Kota Kembang

Dikirim oleh Marlitha Giofenni (Arema Parahyangan)

23 Januari 2011, sebuah tanggal yang saya tandai besar-besar pada kalender duduk di atas CPU, hari yang saya rekam dengan sangat kuat dalam memori otak ketika pertama kali mengetahui jadwal pertandingan ISL 2010/2011. Ketika memasuki awal tahun ini semakin tidak sabar menanti hari itu tiba. Bila tidak ada aral melintang, kalau BLI tidak seenak dengkulnya merubah jadwal (seperti penundaan beberapa pertandingan ISL 1 – 8 Januari 2011 akibat recovery pemain Timnas), dan apabila Polres Bandung mengeluarkan ijin, dan tentu jika bumi yang kita pijak masih berputar pada porosnya dan berevolusi mengelilingi matahari, maka pada hari itu akan digelar sebuah pertandingan big match, Persib kontra Arema.

Pertandingan yang bagi kami -Aremania Bandung- anggap penting, bukannya meremehkan pertandingan lain tentunya. Betapa tidak, kami yang jauh dari Bhumi Arema akan mendukung Singo Edan secara langsung, sebuah kesempatan yang jarang terjadi, melihat fakta bahwa kami tidak sesering Aremania di Ngalam yang dapat menonton Arema di Kanjuruhan secara langsung. Nasib Aremania perantauan.

Menonton secara langsung? Bukankah hubungan Aremania dengan suporter Persib kurang harmonis akhir-akhir ini? Mungkin pertanyaan itu yang terlintas di benak nawak-nawak ketika membaca pernyataan di atas.
Seperti yang diketahui banyak pihak, beberapa gesekan antar kedua suporter yang punya warna biru sebagai identitas ini terjadi semenjak musim lalu. Baik melalui yel-yel yang dikumandangkan di stadion, yang kebetulan terekam secara live di televisi, sehingga tersiar ke seluruh pelosok negeri, hingga aksi-aksi yang sebenarnya tak patut dilakukan terjadi, yang dampaknya menimbulkan kerugian baik secara fisik, mental, maupun materi.
Entah siapa yang memulai, sehingga yang lain terprovokasi, menuruti hasutan, mengikuti permainan, dengan alasan membela harga diri, hingga siap mati membela apa yang dicintai. Apakah itu wujud loyalitas? Apakah itu cara menjadi suporter dengan totalitas? Tidak adakah cara mendukung yang lebih berkualitas?

Ah, tentu tidak akan ada habisnya membahas hal ini, karena setiap individu merasa bahwa kelompok suporternyalah yang terbaik. Untuk klub, rela melakukan apapun. Tidak salah memang, namun patut disayangkan apabila dampaknya menjadi seperti ini.

Seperti apa maksudnya? Seperti musim lalu, kami Aremania Bandung untuk pertama kalinya tidak dapat mengenakan atribut yang kami banggakan ketika mendukung Arema langsung di Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung. Dampak kemelut Aremania – Viking yang ketika itu sedang agak kurang kondusif. Padahal dahulu kami cukup ramah disambut dengan tangan terbuka di stadion oleh suporter Persib.


Aremanita Parahyangan di GBK

Oh iya, berbicara mengenai suporter Persib, sebelumnya mungkin nawak-nawak dibuat bingung dengan istilah “Bobotoh” dan “Viking”. Semoga penjelasan berikut menambah wawasan kita sebagai suporter. Bobotoh, dalam Bahasa Sunda berarti “yang memberi dukungan kepada yang bertanding”. Ya, Bobotoh adalah suporter Persib. Sedangkan Viking (Viking Persib Club) adalah salah satu kelompok fans suporter yang berdiri pada tanggal 17 Juli 1993, diprakarsai oleh Heru Joko (yang sekarang menjabat sebagai Ketua Viking Pusat). Selain Viking, kelompok fans suporter Persib yang lain adalah Bomber. Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), berdiri tahun 2001, salah satu dedengkotnya adalah Nevy Efendi. Ada juga Balad Persib, Jurig Persib, Rebolan sebagai kelompok fans suporter. Jadi dapat disimpulkan, Viking (dan Bomber, serta yang lain) adalah Bobotoh, namun Bobotoh belum tentu Viking. Tetapi semuanya adalah pendukung Persib, Bobotoh lebih luas, tidak terkotak-kotak oleh nama komunitas.

Mungkin bagi Aremania yang tidak mempunyai ikatan atau kenangan apapun dengan Bandung, Jawa Barat, dan Bobotoh bisa saja cuek dengan hal ini. Menganggap enteng ketidakharmonisan Aremania – Bobotoh, layaknya rivalitas Aremania – Bonek yang memang terjadi sejak jaman baheula. Atau menganggap wajar bila ini terjadi karena kemesraan duo suporter besar Indonesia, Aremania – The Jak versus Viking (yang pasti adalah Bobotoh) – Bonek, dimana sudah menjadi rahasia umum bahwa biru yang satu tidak akur dengan hijau, dan biru yang lain tidak akur dengan oranye. Sebuah hal yang wajar di dunia si kulit bundar kata orang (secara pribadi saya tak pernah suka dengan statemen ini, karena persaingan sudah tidak sehat).
Namun, bagi kami Aremania Bandung yang sebagian besar asli Kera Ngalam yang ternyata ditakdirkan bernafkah di Tatar Sunda, Bumi Parahyangan yang notabene tanah lahirnya Bobotoh, tentu menjadi sebuah dilema besar. Apakah kami mendramatisir? Tentu nawak-nawak mengerti kalau memahami posisi kami.

Kami mencari ilmu bersama Bobotoh, tinggal bersebelahan dengan Bobotoh, bekerja mengais rupiah dan menyambung hidup berpartner dengan Bobotoh, bahkan tidak sedikit yang berjodoh dengan Bobotoh, hidup kami dikelilingi Bobotoh. Kalau sedang berkendara di jalan raya, sering kami melihat stiker “Persib, Jati Diri Urang Sunda”, “Persib Duriat Aing”, “Tong Rasis Ulah Anarkis Dukung Persib Make Manah”, “Persib Nu Aing”, “Persib Aing Pisan”, dan beragam atribut dari kaos, jaket, hingga tas sekolah dikenakan banyak orang dari kecil sampai dewasa. Tentu tidak berbeda dengan di Bhumi Arema. Ya, dimanapun, sepakbola telah menjelma menjadi lebih dari sekedar permaianan dua puluh dua orang di lapangan yang memperebutkan bola, menghadang serangan musuh, dan mencetak gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya. Sudah lebih dari itu. Sepakbola sudah bagai budaya, jati diri, bahkan yang lebih ekstrem “agama kedua”, dan beragam filosofi lain. Sebuah kultur masyarakat.

Beda klub yang kami dukung, tak membuat kami berseteru dengan Bobotoh di sekitar kami. Justru perbedaan itulah yang membuat unik. Ya, perbedaan didasari dengan toleransi tinggi, saling menghormati, menghargai, tak ada kata mencaci, jauh dari kata hinaan yang munusuk hati, kata-kata ejekan bercanda kalau kebetulan klub yang didukung kalah itu tak kami pungkiri, ada tepuk punggung saling menyemangati. (“Arema kemarin menang ya? Menangis! Hehe… “, kata Bobotoh. “Wah, selamat Persib juga menang kan? Maksudnya menanggung malu, wkwk… “, kata Aremania.) Sungguh indah. Bagiku Aremaku, Bagimu Persibmu. Tak ada benci dan kata saling caci.

Mendengar cerita sam-sam yang sudah menetap bertahun-tahun di Bandung tentang bagaimana dulu Aremania disambut dengan hangat oleh Bobotoh, membuat saya ingin merasakan hal itu (belum pernah). Bahkan ada salah satu teman Bobotoh berkomentar di jejaring sosial Facebook, “Kami merindukan Aremania di Kota Kembang, dulu kalau ke sini suka bawa singa-singaan!”


Aremania Parahyangan di GBK dukung Arema

Berbagai pihak telah berupaya kembali mengharmoniskan hubungan (toh sejarahnya memang tak pernah terlibat gesekan secara langsung di stadion), melakukan mediasi dengan dedengkot-dedengkot suporter yang “dituakan”, dan hal-hal lain. Butuh waktu dan proses yang tak singkat. Tapi ketika keyakinan itu ada, apapun bisa saja terjadi.

Selain itu terdapat forum yang berjudul Aremania – Bobotoh Satu Warna Bukan Musuh, pernah muncul di Harian Bandung Ekspres (3 Januari 2011) dan Sumedang Ekspres (5 Januari 2011) dimana forum tersebut cukup vokal dalam berapresiasi, dan mempunyai program yang meniru aksi suporter Liverpool yang kecewa terhadap kepemimpinan pemiliknya, bedanya forum ini meluapkan ekspresi mereka akan kinerja petinggi organisasi sepak bola di negeri ini. Forum tersebut salah satu bukti bahwa tidak sedikit yang mendukung kedua suporter ini menjalin hubungan baik seperti sedia kala. Bentuk ekspresi lain yaitu dengan dibuatnya kaos bertuliskan “Keep Stay on the Blues, Between Green and Orange”, dan pembuatan kaos pengumpulan dana bantuan untuk Unicef dengan tema “Born to be Blue, We are Indonesian Supporters Unite For Children”, dimana sebagaian dari penjualan kaos tersebut didonasikan untuk Unicef.

Kami tidak berangan-angan kedua suporter ini memproklamirkan diri “satu hati” atau “satu jiwa”, tidak untuk itu! Karena ideologinya beda, Aremania untuk Arema dan Bobotoh untuk Persib. Seperti lagu APA Rapper, “Di sini Arema, di hati jiwa juga ragaku”. Dan Bobotoh pun dengan bangganya berucap “Persib, jati diri Urang Sunda”. Kami hanya ingin mendukung Arema dimanapun kami berpijak, tanpa perlu menyembunyikan identitas dan jati diri kami, atau menutupi atribut hanya karena kami Aremania, khususnya di Bandung, tanah kedua kami. Sungguh kami cinta Arema, bangga menjadi kera Ngalam, selalu membawa semangat Singo Edan, dan berjuluk Aremania.

Berita baiknya saya mendapatkan pesan singkat dari nawak Aremania Ngalam yang menyebutkan salah satu kolom di Harian Malang Pos tertanggal 8 Januari 2011, halaman 14, yang kurang lebih berisi komentar dari Aremania tentang Pak Heru Joko (Ketua Viking) yang siap melakukan rekonsiliasi memperbaiki hubungan yang sempat merenggang. Semoga bukan sekedar wacana saja.

Tulisan didedikasikan tak sekedar memenuhi keinginan kami semata, tapi juga demi Aremania, agar bisa mendukung Arema kemana-mana, ke kandang Maung Bandung tentunya, dan semoga kelak Bobotoh pun bisa mendukung Persib di kandang Singo Edan, dengan nyaman tanpa ketakutan. Hei, bukankah sekarang sudah ada KA Malabar? Kereta yang menghubungkan Bandung dan Malang melalui jalur selatan, tanpa melewati kota dimana rival bebuyutan Aremania berada.

Arema, besar karena cobaan
Aremania, mendukung Singo Edan
Loyalitas, jangan pernah ragukan
Selalu, tak tergantikan




silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Minggu, 30 Januari 2011

Inilah Isi Surat Kaleng Eli Cohen, Tentang Oknum PSSI Menjual Kekalahan Indonesia


Inilah surat elektronik yang dikirimkan Eli Cohen tersebut. Namun, demi alasan etika, inisial para pejabat sengaja kami hilangkan:

From: eli cohen
Date: Sun, 30 Jan 2011 14:36:16 +0700
To: ; ;

Subject: Mohon Penyelidikan Skandal Suap saat Piala AFF di Malaysia

Kepada Yth.
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia

Di Jakarta


Dengan Hormat,

Perkenalkan nama saya Eli Cohen, pegawai pajak dilingkungan kementrian Keuangan Republik Indonesia. Semoga Bapak Presiden dalam keadaan sehat selalu.

Minggu ini saya membaca majalah tempo, yang mengangkat tema khusus soal PSSI. Saya ingin menyampaikan informasi terkait dengan apa yang saya dengar dari salah satu wajib pajak yang saya periksa dan kebetulan adalah pengurus PSSI (maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya) .

Dari testimoni yang disampaikan ternyata sangat mengejutkan yaitu adanya dugaan skandal suap yang terjadi dalam Final Piala AFF yang dilangsungkan di Malaysia.

Disampaikan bahwa kekalahan tim sepak bola Indonesia dari tuan rumah Malaysia saat itu adalah sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Hal ini terjadi karena adanya permainan atau skandal suap yang dilakukan oleh Bandar Judi di Malaysia dengan petinggi penting di PSSI yaitu XX dan XXX. (ia menulis inisial dua nama, red).

Dari kekalahan tim Indonesia ini baik Bandar judi maupun 2 orang oknum PSSI ini meraup untung puluhan miliar rupiah.

Informasi dari kawan saya, saat dikamar ganti dua orang oknum PSSI ini masuk ke ruang ganti pemain (menurut aturan resmi seharusnya hal ini dilarang) untuk memberikan instruksi kepada oknum pemain. Insiden “laser” dinilai sebagai salah satu desain dan pemicunya untuk mematahkan semangat bertanding.

Keuntungan yang diperoleh oleh dua oknum ini dari Bandar judi ini digunakan untuk kepentingan kongres PSSI yang dilangsungkan pada tahun ini. Uang tersebut untuk menyuap peserta kongres agar memilih XX kembali sebagai Ketua Umum PSSI pada periode berikutnya.

Saya bukan penggemar sepak bola, namun sebagai seorang nasionalis dan cinta tanah air saya sangat marah atas informasi ini. Nasionalisme kita seakan sudah dijual kepada bandar judi untuk kepentingan pribadi oleh oknum PSSI yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karenanya saya meminta Bapak Presiden untuk melakukan penyelidikan atas skandal suap yang sangat memalukan ini.

Semoga Tuhan memberkati Negara ini.


Hormat Kami,
Eli Cohen
Pegawai Pajak


Tembusan
1. Menteri Olah Raga
2. Ketua KPK
3. Ketua DPR
4. Ketua KONI


silakan berkomentar di fb koment...apabila tulisanya tidak jelas langsung di block tulisanya atau ctrl + a Terimakasih
Read more..

Features-Content

Recent Posts