Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

Kisah PT Putra Arema membangun Stadion Gajayana


Hampir semua penggemar sepakbola di Indonesia mengetahu jika Stadion Gajayana Malang sekarang ini adalah homebase Persema di Liga Primer Indonesia(LPI). Bahkan ada yang menganggap stadion Gajayana ini milik Persema.

Anggapan Stadion Gajayana milik Persema adalah tidak benar. Stadion Gajayana dibandung dengan dana puluhan ribu gulden pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pembangunan Stadion Gajayana ini dirangkai dengan pembangunan dua lapangan luar Stadion dan satu buah kolam renang berstandar nasional yang dikenal dengan nama Swembat.

Awalnya stadion Gajayana hanya berkapasitas sekitar 5000 penonton(kurang dari separuhnya berada di tribun yang kita kenal sebagai tribun VIP sekarang ini). Stadion Gajayana baru merasakan pemugaran hebat di tahun 1990-1992 seiring dengan penambahan kapasitas stadion menjadi 17.000 penonton.

Pemugaran Stadion ini didanai oleh PT Putra Arema yang dikomandoi Ir Lucky Acub Zaenal atau yang akrab disapa sebagai Sam Ikul. Dana pemugaran stadion totalnya mencapai 3 Miliar rupiah dan hampir seluruhnya berasal dari kantong pribadi Sam Ikul. Sam Ikul melego salah satu rumahnya di Jl Besar Ijen seharga 2 Miliar rupiah sebagai salah satu sumber pendanaan dari PT Putra Arema. Tak cukup dengan itu, kabarnya Sam Ikul melego beberapa mobil pribadinya untuk membantu pemugaran stadion.

Pemugaran dimulai seiring berakhirnya Galatama 1989/1990. Ratusan pekerja(kabarnya mencapai lebih dari 200orang) dikerahkan setiap harinya agar proyek bisa diselesaikan tepat waktu. Semakin lama proyek diselesaikan akan mengakibatkan pembengkakan dana yang tidak perlu. Apalagi dana 3 Miliar rupiah ketika itu sudah lebih dari cukup untuk mendanai Arema selama 3-4 musim kompetisi.

Agar selesai tepat waktu pemugaran stadion ini mendapat dukungan dari banyak pihak baik moril maupun materiil. Nirwan D. Bakrie yang pernah membangun Stadion Sanggraha Pelita Jaya di Lebak Bulus juga memberikan bantuan bagi PT Putra Arema. tak tanggung-tanggung lewat Bakrie & Brothers bantuan diberikan juga dalam bentuk tenaga teknis. Semata-mata untuk memberikan bantuan teknis kepada Sam Ikul yang kurang memiliki pengalaman dalam menangani proyek besar dan sebagai kontraktor khususnya.

Seakan menjawab do'a dan harapan dari Sam Ikul akhirnya stadion yang pernah memiliki salah satu kualitas rumput terbaik seIndonesia di jaman Hindia Belanda ini selesai lebih cepat dari waktu yang ditargetkan. Bayangan buruk bahwa Arema bakal lebih lama memakai Stadion Brantas Batu bisa dilenyapkan. Dengan adanya stadion yang baru dipugar dan kapasitas yang lebih besar memungkinkan Arema memiliki pendapatan lebih dari sektor tiket penonton.

Di era Galatama selain sponsor dan donatur pendapatan dari tiket penonton sangat diandalkan. Selepas Arema memakai Stadion Gajayana yang baru dipugar harga tiket ketika itu sebesar 2000 rupiah untuk ekonomi dan 3500 rupiah untuk VIP. Dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 150ribu orang untuk satu musim Galatama di tahun 1992/1993, Arema bisa memperoleh pendapatan kotor lebih dari 300juta rupiah dalam satu musim kompetisi.



tribute : Sam Faisal Huda

Angka tersebut cukup besar untuk memberi nafas sejenak kepada Arema selama mengarungi kompetisi Galatama sekalipun tidak cukup untuk 'mbandani' pengeluaran klub selama semusimnya.

Lewat proyek pemugaran stadion Gajayana ini Arema mendapat kompensasi berupa pengelolaan stadion selama 20 tahun(Sumber : Arema Never Die karangan Abdul Muntholib). Katakanlah kerjasama itu dimulai dari tahun 1990 maka semestinya Arema masih bebas memakai stadion tersebut hingga tahun 2010.

Namun tidak sampai akhir kerjasama tersebut Arema terpaksa hengkang untuk menggunakan Stadion Kanjuruhan sebagai homebasenya. Semestinya jika memang kerjasama awalnya menyatakan demikian Arema bisa meraup pendapatan signifikan dari Stadion Gajayana. Apalagi di tahun 2009 pendapatan APBD Malang dari Stadion Gajayana mencapai ratusan juta rupiah dan dapat ditingkatkan menjadi 1-2 Miliar rupiah jika Arema dapat mengelolanya secara penuh.

Meski Arema sampai dengan saat ini masih memakai Stadion Gajayana untuk latihan dan ujicoba, terakhir kali Arema merasakan berkompetisi di Stadion ini adalah di tahun 2007 ketika melakoni Liga Champions Asia dan Copa Indonesia. Untuk level sekelas liga Indonesia Arema terakhir memakainya di awal tahun 2006 melawan PSMS Medan sebagai tuan rumah.


Courtesy Sam Faisal Huda via facebook

Banyak memori indah yang diukir Arema di stadion ini. Arema meraih juara Galatama di tahun 1992/1993 ketika memakai Stadion Gajayana sebagai homebasenya. Itu adalah trophy pertama Arema yang diraih pada kejuaraan resmi. Trophy berikutnya hadir ketika turut serta menjadikan Stadion Gajayana sebagai homebase Arema di Copa Indonesia 2005 dan 2006.

Di era kepemimpinan H. Soesamto sebagai walikota Malang, Stadion Gajayana Malang juga mendapat 'sentuhan' pemugaran dengan penambahan lampu stadion di tahun 1996-1997. Proyek ini memakan biaya 2 Miliar rupiah dan baru selesai ketika Persema menjamu Persipura di tahun 1997. Tiang dan lampu ini sampai sekarang masih digunakan di Stadion Gajayana.

Selepas berakhirnya walikota H. Soesamto di tahun 1998 nyaris tidak ada proyek lagi berkaitan dengan Stadion Gajayana. Di era kepemimpinan walikota Suyitno, Arema dan Aremania beberapa kali melayangkan permintaan untuk pemugaran Stadion untuk penambahan kapasitas penonton. Kapasitas tempat duduk yang sebesar 17ribu tersebut tidak cukup menampung massa dan seringkali penonton meluber hingga sentelban. Di sepanjang kompetisi kondisi ini jamak terjadi ketika Arema bertanding. Untungnya PSSI tidak memberikan sanksi ketika itu karena tiadanya peraturan yang mengatur tentang luberan penonton didalam pertandingan.

Asa sempat menyeruak tatkala walikota berikutnya, Drs. Peni Suparto memberikan janji untuk memperbesar kapasitas stadion dimana kondisi tribun ekonomi yang semula 10trap menjadi 14trap. Perbesaran kapasitas ini memungkinkan Stadion memiliki daya tampung hingga lebih dari 22ribu penonton.

Sayangnya janji tersebut tidak dapat direalisasi dengan alasan sama dengan yang sebelumnya, keterbatasan dana. Sampai adanya Mall Olympic Garden(MOG) yang pembangunannya sepaket dengan pemugaran stadion Gajayana dan penambahan kapasitas tribun hingga diatas 30ribu penonton.


Agaknya peran swasta tidak dapat dilepaskan dari pembangunan Stadion Gajayana. Tanpa peran Sam Ikul dan lainnya Stadion ini tidaklah semenarik seperti yang sekarang kita saksikan. Ditunggu kiprah dan sumbangsih Persema dan Ngalamania nantinya untuk melestarikan Stadion Gajayana ini.
Read more..

Promosi, Sarana untuk Memajukan Arema Indonesia


Banyak jalan menuju ke Roma. Pepatah kuno ini mengajarkan kepada manusia untuk tidak cepat menyerah serta banyak jalan menuju kesuksesan. Roma dimasa lalu ada lambang kejayaan imperium Romawi. Keberhasilan Roma dimasa itu umumnya dianggap sebagai buah kesuksesan Romawi.

Dalam sepakbola Indonesia saat ini belum terdapat standar yang jelas untuk mengukur keberhasilan suatu klub. Sepuluh tahunan lalu klub yang sukses adalah klub yang telah menjuarai suatu kompetisi menjadi opini umum bagi penggemar sepakbola Indonesia. Dengan berkembangnya informasi, anggapan klub yang sukses telah berganti menjadi klub yang bisa bertahan mengikuti kompetisi tanpa memakai dana hibah APBD.

Sekarang ini kompetisi ISL 2010/2011 tinggal 4 klub yang tidak memakai dana APBD. Semen Padang, Pelita Jaya, dan Arema adalah sebagian kecil dari klub eks Galatama yang tetap eksis dengan modal sendiri, sedangkan Persib Bandung adalah satu-satunya tim eks perserikatan yang sudah "tobat" tidak menggunakan hibah anggaran APBD lagi.

Skema pendanaan klub nonAPBD bermacam-macam. Pelita Jaya disokong oleh anggota keluarga taipan kenamaan, Nirwan Bakrie. Semen Padang dibackup oleh induk perusahaannya, sedang Persib Bandung walaupun mendapat pasokan dana segar dari sponsor dan tiket juga mendapat dukungan dari konsorsiumnya senilai belasan miliar rupiah setiap tahun. Sedangkan di Arema sekitar 90 persen pendapatan tim berasal dari usaha sendiri.

Usaha yang melibatkan Arema banyak macamnya. Mulai dari penjualan tiket, sponsorship, hingga merchandise tim. Untuk sektor sponsorship diperkirakan Arema mendapatkan lebih dari 7 Miliar rupiah sampai dengan paruh pertama musim ini. Wujudnya sendiri beragam, mulai dari sponsor utama dan pendukung dengan kompensasi peletakan logo sponsor di jersey pemain, hingga yang berwujud iklan/advertorial.

Ragam iklan yang disediakan oleh Arema memang berfungsi sebagai sumber pemasukan klub. Bentuknyapun mulai dari semacam giant banner, spanduk, hingga branding pada tiket pertandingan. Untuk penempatannya bisa dilakukan baik didalam maupun luar stadion.

Jika unit bisnis produktif ini mampu tergarap secara maksimal, bukanlah mustahil jika Trilogy pengembangan dalam Industry sepakbola yaitu Sports Performance, Sport Product dan Sportainment menjadi sebuah kesatuan nafas bagi pengembangan Arema kedepannya.

Beberapa unit bisnis produktif dalam bentuk iklan/advertorial yang sedang digarap oleh Divisi Marketing Arema diantaranya :

A.Placement Promo And Advertise
- A-Board (Advertise Board)
Merupakan media promosi berupa papan iklan di dalam stadion yang diletakan di sisi lapangan pertandingan dengan ukuran a-board sebesar 6m x 1m. Jumlah A-Board yang bisa dioptimalkan di Stadion Kanjuruhan sejumlah kurang lebih 40 buah dengan penempatan bervariatif di sisi sekitar lapangan untuk ring pertama.

Musim lalu diperkirakan pemasukan Arema dari lahan A-Board mencapai 1Miliar rupiah.

- A-Wall (Advertise Wall)
Merupakan media promosi yang ditempatkan pada dinding bagian dalam Stadion. Space advertise wall yang bisa dioptimalkan dengan penempatan terbaik sejumlah 30 space, dengan ukuran per a-wall 5m x 1 m.

Gb : A-Wall ketika Piala Indonesia 2010
Banderol untuk A-Wall ini musim lalu mencapai 500ribu rupiah untuk setiap A-Wall yang terpasang. Musim lalu Arema mendapat order untuk pemasangan A-Wall dari beberapa perusahaan seperti perusahaan percetakan lokal hingga salah satu perusahaan telekomunikasi tersohor di Indonesia.

- Advertise Scoring Board
Merupakan media promosi yang ditempatkan pada bagian bawah Papan Skor pertandingan di dalam Stadion, dengan ukuran 1m x 12 m.

- Backdrop Press Conference
Merupakan media promosi berupa penempatan logo sponsor (brand perusahaan/produk) pada Backdrop Press Conference Arema Indonesia setiap dilangsungkan pertandingan Home di Stadion Kanjuruhan.

Gb : Backdrop Press Conference
- Giant Banner
Merupakan media promosi berupa baner vertical dengan ukuran besar (3m x 10m ) yang ditempatkan pada tiang lampu stadion kanjuruhan dengan bentuk vertical ke bawah. Space yang tersedia 4 buah menyesuaikan jumlah tiang lampu yang ada di Stadion Kanjuruhan

- Spanduk Sponsor
Adalah media promosi berupa spanduk yang ditempatkan di atas Tribun penonton VIP dan VVIP dengan ukuran 1m x 6 m. Jumlah space spanduk yang tersedia sebanyak 4 buah

- Advertise Bench Official
Merupakan media promosi berupa stiker branding/baner tempel yang ditempatkan pada bagian belakang dan depan Bench Pemain dan Official Tim. Bentuk Bench disesuaikan dengan standart Internasional. Space yang tersedia sebanyak 2 buah sesuai dengan jumlah Bench kedua Tim yang bertanding.

- Advertise Lorong Pemain
Merupakan media promosi berupa stiker branding/baner tempel yang ditempakan pada sisi atas dan sisi samping Lorong Pemain menuju dan keluar lapangan pertandingan, Ukuran lorong disesuaikan dengan standart Internasional. Penempatan branding sponsor pada bagian sisi atas dan sisi samping lorong pemain sehingga terlihat jelas dari segala penjuru Stadion Kanjuruhan.

- Advertise Carpet
Merupakan media promosi berupa karpet yang dibrandingkan dengan logo sponsor, dengan penempatan di sisi kanan dan sisi kiri kedua gawang di belakang garis lapangan. Jumlah space yang tersedia untuk Advertise Karpet sebanyak 12 space.

- Stand Booth (Stand Penjualan)
Merupakan Promosi/Penjualan adalah Media Branding/Promosi dan Selling (penjualan) bagi Sponsor di dalam Area dalam Tribun VIP/VVIP maupun di bagian luar atas area Tribun VIP/VVIP. Space yang tersedia sebanyak 25 Stand Booth baik di dalam maupun luar atas area VIP/VVIP.

- Premium Advertise Promo di dalam Area VIP/VVIP
Merupakan promosi dan branding sponsor di dalam area VIP/VVIP, mixed zone, dan Space potensial Placement lainnya melalui media Stiker Sponsor, Indoor banner, Spanduk Indoor, Stand Baner dan berbagai media promo lainnya.

B.Promo Outdoor
- Outdor Banner / Baliho Sponsor
Merupakan Media Promo berupa Banner atau Baliho yang ditempatkan di luar pintu masuk Stadion Kanjuruhan, ukuran Banner atau Baliho menyesuaikan sponsor

- Umbul-umbul Sponsor
Merupakan media promo berupa umbul-umbul yang ditempatkan di area luar Stadion Kanjuruhan dengan ukuran 1m x 6m.

- Spanduk Publikasi
Merupakan media promo berupa spanduk sebagai media publikasi yang ditempatkan di lokasi strategis di Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu, Kab. Malang).

- Stand Booth (Stand Penjualan)
Stand Promosi/Penjualan adalah Media Branding/Promosi dan Selling (penjualan) bagi Sponsor di bagian luar area Stadion Kanjuruhan. Space yang tersedia sebanyak 20 Stand di Area luar Stadion.

- Moving Air Baloon
Satu sisi : Logo Sponsor
Sisi lain : Logo Arema Indonesia
Adalah media promosi berupa balon udara yang bergerak yang diudarakan sebelum pertandingan, sebagai daya tarik kepada Aremania dan Masyarakat umum, dimana logo Arema dan Sponsor bersanding di balon udara, sehingga menguatkan branding produk-produk Sponsor sebagai Partner dan bagian utama dari perjalanan Arema Indonesia.

- Stand Air Baloon
Merupakan Media promosi berupa balon udara yang ditempatkan di lokasi tertentu di area Stadion Kanjuruhan, dimana pada balon udara terdapat branding Logo Sponsor bersanding dengan Logo Arema Indonesia.

- Branding Sekretariat KORWIL AREMANIA
Merupakan media promosi dengan berbagai alternative jenis media yang ditempatkan pada seluruh Sekretariat KORWIL AREMANIA resmi yang ada di seluruh Malang Raya

- Branding Store Official Merchandise Arema Indonesia
Merupakan media promosi dengan berbagai alternative jenis media yang ditempatkan pada seluruh STORE OFFICIAL MERCHANDISE Arema Indonesia di seluruh Malang Raya.

- Advertise Buletin
Merupakan bentuk space media promosi pada buletin Arema Indonesia yang dicetak dalam setiap Home Match Arema Indonesia sejumlah 10.000 (sepuluh ribu) ekslempar. Distribusi buletin Arema Indonesia ini disebarkan di Stadion Kanjuruhan kepada Aremania, kemudian sebagian lainnya disebarkan pada tempat-tempat strategis (public) dan tempat-tempat komunitas.

- Advertise Majalah AREMA INDONESIA
Merupakan bentuk advertise pada media promosi di Majalah Bulanan Arema Indonesia yang dicetak secara eksklusif setiap bulan dengan penjualan yang terbatas. Distribusi Majalah Arema Indonesia ini hanya didistribusikan kepada tempat/pihak terbatas seperti Hotel berbintang, Maskapai Penerbangan, Travel Agent, Perusahaan-Perusahaan besar. Kemudian sebagian lainnya dijual secara Eksklusif melalui web site Arema Indonesia, www.aremafc.com

- Advertise Promo Web Site AREMA INDONESIA (www.aremafc.com)
Merupakan space advertise promo Sponsor pada web site resmi Arema Indonesia.

C. Other Promotion
- Branding Pada Tiket Pertandingan
Merupakan media branding sponsor dengan pencantuman logo Sponsor pada tiket pertandingan Arema Indonesia, baik tiket ekonomi, VIP dan VVIP. Jika Anda terbiasa membeli tiket pertandingan untuk menyaksikan pertandingan Arema, coba simak logo apa saja yang tertera di dalam tiket pertandingan tersebut.

- Jingle Tone Sponsor
Pemutaran Jingle Tone Sponsor pada awal, jeda, dan akhir pertandingan Home Match Arema Indonesia di Stadion Kanjuruhan. Jika Anda terbiasa datang ke stadion lebih awal, Anda pasti akan menemukan Jingle Tone yang biasa diputar lewat loudspeaker di stadion.

- Spot Promo Program
Program Promo Sponsor yang dilakukan secara Live pada saat pertandingan berlangsung, baik ketika sebelum Kick Off, Jeda dan pada akhir Pertandingan.

- Lips Service MC (Master Of Ceremony)
Penyampaian ucapan terima kasih kepada Sponsor-Sponsor yang Bersinergi dalam setiap Home Match Arema Indonesia ketika Jeda Pertandingan babak pertama.
Read more..

Catatan Akhir Musim 2010/2011

Selesai sudah musim 2010-2011, selesai sudah musim yang terasa sangat panjang bagi Arema Indonesia, musim yang dipenuhi dengan masalah yang datang silih berganti tanpa kenal ampun. Tapi, ini semua bukan berarti masalah akan segera pergi dari Arema Indonesia, yang jelas badai belum berlalu. Kini masalah yang ada tinggal menyisakan permasalahan dalam tubuh manajemen, dan biarlah itu diselesaikan oleh manajemen kita sebagai Aremania cukuplah urun rembug, dan jangan sampai makin menambah keruwetan yang terjadi.

Musim ini adalah musim ujian bagi Aremania dan Arema Indonesia, musim ini adalah musim dimana karakteristik masing-masing personal akhirnya dibuka oleh Allah. Siapa saja Aremania yang benar-benar loyal kepada Arema Indonesia, yang selalu tanpa kenal lelah mendukung Arema dalam setiap pertandingan, apapun yang terjadi. Mana saja dalam tubuh manajemen orang-orang yang benar-benar mencintai Arema dan melakukan semuanya demi nama Arema Indonesia, serta siapa-siapa saja yang hanya mencoba mencari keuntungan dari nama besar Arema Indonesia. Semuanya terkuak musim ini, dan musim ini haruslah menjadi musim yang penuh pelajaran bagi semua pihak dalam tubuh Aremania dan Arema Indonesia, sehingga segala kesalahan dan kebodohan yang terjadi musim ini, janganlah sampai terulang lagi di musim-musim yang akan datang, karena saya yakin Aremania dan Arema Indonesia adalah golongan-golongan Ulul Albab, yakni orang-orang pintar dan baik yang mampu mengambil hikmah dari segala sesuatu.

Tapi anehnya, justru musim inilah saya benar-benar bisa merasakan bagaimana sepakbola itu sesungguhnya, benar-benar merasakan bagaimana rasanya mencintai dengan sangat, bagaimana rasanya sakit hati tapi masih bisa mencintai, ibarat orang pacaran, saya sudah diselingkuhi dan perselingkuhan itu saya ketahui, tapi tetap saja saya mencintai pacar saya itu, hanya karena saya mencintai pacar saya itu dengan sepenuh hati dan tidak bersyarat. Itulah Aremania, sudah berkali dikhianati oleh manajemen musim ini, sudah berkali-kali di bohongi oleh manajemen, tapi Aremania tetap mendukung Arema Indonesia, Aremania tetap mencintai Arema Indonesia, tapi, ada beberapa Aremania yang memang cintanya bersyarat, dan itu wajar dalam urusan percintaan. Tapi, yang perlu kita ingat, dipertandingan terakhir kemarin, Aremania membuktikan cintanya kepada Arema Indonesia. Cinta itu masih ada, kerinduan masih ada, dan sepinya stadion dalam beberapa pertandingan musim ini, hanyalah karena cinta beberapa Aremania bersyarat.



Stadion Sepi, Apakah Sama Dengan Cinta Bersyarat?
Syarat-syarat inilah yang harus dipenuhi oleh Arema Indonesia musim depan, tujuannya jelas, agar bisa memenuhi syarat cinta beberapa Aremania, dan tujuannya, penuhnya Stadion Kanjuruhan, melimpahnya dukungan pada Singo-Singo Edan, dan tentu saja, stadion Kanjuruhan pada akhirnya akan penuh dengan cinta. Bagaimana memenuhi syarat cinta itu, salah satunya adalah manajemen haruslah berbenah, jadi lebih jujur, jadi lebih bertanggung jawab, transparan, dan mengelola Arema Indonesia dengan sepenuh hati, jiwa dan raganya. Secara team, permainan haruslah lebih cantik, tidak hanya cantik, tapi juga harus menghasilkan kemenangan, dan di akhir musim, haruslah menghasilkan gelar juara. Peringkat dua atau bahkan dibawahnya, ini bukanlah target yang pantas bagi Arema Indonesia, juara itulah posisi yang pantas untuk Arema Indonesia, lagipula, seperti apa yang Jose Mourinho katakan “Dunia hanya mengenal sang juara, Nomor dua adalah pecundang” meskipun dalam sisi lain, Cak Nun menyatakan esensi juara itu tidak ada, tapi tetap saja saya yakin semua Aremania menginginkan gelar juara. Lihat musim ini, dengan kondisi intern yang sangat buruk, kita masih bisa duduk sebagai runner-up, apalagi, apabila kondisi musim depan lebih baik, maka gelar juara bukanlah lagi sebuah keniscayaan. Itulah dua syarat utama yang harus dipenuhi oleh Arema Indonesia jika ingin memenuhi syarat cinta Aremania. Memang seharusnya cinta itu tidak bersyarat, tapi dalam realita yang ada, cinta itu memang seringkali bersyarat, inilah kodrat yang telah digariskan oleh Tuhan, dan suka tidak suka haruslah kita terima dengan lapang dada.

Tidak perlulah, kita menyesali apa yang terjadi musim ini, kekalahan kita dari Persipura dalam perburuan gelar juara musim ini adalah sesuatu yang layak kita jadikan pelajaran, karena pada hakekatnya, kekalahan, kegagalan, adalah setinggi-tingginya ilmu pengetahuan, untuk mengalami kemenangan, kita tidak memerlukan persiapan mental sebanyak dan seberat daripada mengalami kekalahan. Ketika menang, kita hanya tinggal bergembira dan berpesta, sementara untuk kekalahan, kita harus menyiapkan diri untuk menerima hinaan, cacian, dan hal-hal lain yang menyakitkan hati. Cerita tentang seorang Liverpudlian yang bunuh diri ketika Liverpool kalah 3-0 di separuh babak pada final Liga Champions Eropa melawan AC Milan, padahal akhirnya Liverpool menjadi juara, menjadi bukti betapa sulitnya menerima kekalahan daripada kemenangan, padahal saat itu Liverpool belum benar-benar dinyatakan kalah. Bagaimanapula pemain timnas Kolombia, Escobar, meninggal ditembak fans Kolombia, setelah dia mencetak gol bunuh diri, dan membuat Kolombia pulang dari Piala Dunia. Banyak orang lemah yang hanya bisa percaya diri hidupnya kalau ia punya kekayaan. Begitu ia miskin, hancur hatinya. Sementara ada puluhan juta orang kuat yang meskipun hidupnya miskin tetap bisa bahagia dan ceria. Demikianlah banyak orang-orang lemah yang untuk bisa hidup ia membutuhkan jabatan, butuh menyakiti orang lain, butuh mengungguli orang lain, butuh menang atas orang lain, butuh menjadi pejabat, butuh menjadi direktur, butuh menjadi sarjana dan doctor. Kalau mereka tak memiliki itu semua, hancur hatinya.

Musim ini, Aremania membuktikan betapa kuatnya mental Singa kita, setelah musim yang membanggakan dan penuh kebahagiaan pada 2009-2010, lalu musim 2010-2011 ini yang penuh dengan kebohongan dan sakit hati, tapi Alhamdulillah sampai saat ini, kita tidak mendengar ada Aremania yang bunuh diri, ataupun pemain yang meninggal karena di bunuh fansnya sendiri, karena gagal meraih gelar juara ini. Yang ada, Aremania dan Arema Indonesia berhasil menduduki peringkat dua di tabel klasemen akhir Liga Super Indonesia, serta menjadi Juara dalam masing-masing hati Aremania.



Ribuan Orang Datang Ke Kanjuruhan Sebagai Rasa Cinta
Sampai kapanpun Arema adalah Sang Juara bagi Aremania, sampai kapanpun, pemain Arema adalah pahlawan-pahlawan Arema, sampai kapanpun Arema adalah Kebanggaan Bagi Aremania. Bagi para pemain musim ini, janganlah berkecil hati, kalian tetap pahlawan kami, kalian telah bermain dengan seluruh kemampuan, bahkan melebihi batas kemampuan kalian, kalian telah membuktikan bahwa kalian layak bermain mengenakan kostum berlambang Kepala Singa di dada kalian. Percayalah, musim depan Arema akan lebih baik, jadi bertahanlah di klub yang kami cintai ini, bertahanlah di klub yang juga telah membesarkan sebagian besar nama dari kalian ini, bertahanlah di klub ini, demi kami Aremania yang mencintai klub ini dengan sepenuh hati, jiwa dan juga raga kami. Dan apabila kalian memilih untuk pergi dari klub ini, maka pergilah, terima kasih untuk segala hal yang telah kalian berikan untuk kebanggan kami, tapi maafkanlah, jika kelak kalian kembali ke Kanjuruhan, melawan Arema Indonesia, tidak akan ada puja-puji untuk kalian, yang ada hanyalah hinaan, karena bagi kami, nama di dada lebih penting daripada nama yang ada di punggung. Karena bagi kami, kejayaan Arema adalah harga mati, dan harga?. diri. Pemain silahkan datang dan pergi, tapi Arema akan tetap ada di hati kami. Meskipun begitu, kami bukanlah orang yang tidak tahu terima kasih, kalian akan tetap kami hormati sebagai pahlawan-pahlawan kami, kalian akan tetap dihormati, tapi tidak di tempat suci kami, tidak di tempat pemujaan kami, tidak tempat dimana Arema membantai lawan-lawannya, tidak di Stadion manapun Arema bermain.

Akhirnya, terima kasih Ya Allah, untuk musim yang penuh pelajaran ini, terima kasih, telah mengingatkan kami, bahwa tidak selamanya kami akan ada di puncak, selalu ada saat dimana kami akan terlihat seperti orang bodoh, terima kasih masih memberikan kenikmatan kepada kami di tengah kondisi carut marut ini, maafkanlah, bila selama ini kami sering melanggar perintah-Mu demi membela Arema Indonesia, tolong bimbinglah kami, agar dapat melaksanakan perintah-Mu sekaligus tetap membela Arema Indonesia, agar kepentingan dunia dan akhirat kami bisa selaras. (@Trezegulum17)


Petilasan Brontoseno, 20 Juni 2011

00.14 WIB
Read more..

Serba-Serbi Arema di ISL 2010/2011

1. TINGKAT KEDISIPLINAN
a. Home = 20 Kartu Kuning, 1 Kartu Merah
b. Away = 24 Kartu Kuning, 2 Kartu Merah

2. PENONTON(HOME)
a. Penonton Terbanyak = 36994(vs Persipura)
b. Penonton Terendah = 9258(vs PSPS)

3. SKOR
a. Kemenangan Terbesar = 8-0(vs Bontang FC)
b. Kekalahan Terbesar = 1-6(vs Persipura)

4. PROSENTASE
a. Prosentase Kemenangan = 68,2%
b. Prosentase Kemenangan Kandang = 92,9%
c. Prosentase Seri Kandang = 7,1%
d. Prosentase Kalah Kandang = 0%
e. Prosentase Kemenangan Tandang = 14,3%
f. Prosentase Seri Tandang = 42,9%
g. Prosentase Kalah Tandang = 42,9%

5. GOL
a. Gol Memasukkan Kandang = 37
b. Gol Kemasukan Kandang = 5
c. Gol Memasukkan Tandang = 15
d. Gol Kemasukan Tandang = 20

6. USIA
a. Pemain Termuda = Aji Saka(20 tahun)
b. Pemain Tertua = Pierre Njanka(36 tahun, pertengahan putaran I mengundurkan diri)

7. BERMAIN
a. Pemain Inti Terbanyak = Ahmad Bustomi(26kali)
b. Pemain Cadangan Tersering(Tidak Main) = Ahmad Kurniawan(13kali)
c. Pemain Pengganti Tersering = Juan Revi & Ahmad Amiruddin(12kali)
d. Menit Bermain Terbanyak = Ahmad Bustomi(2277 menit)

8. TOP SKOR
a. Top Skor Klub = Roman Chmelo(9 Gol)
b. Top Skor Pemain Asing = Roman Chmelo(9 Gol)
c. Top Skor Pemain Lokal = Yongki Aribowo(7 Gol)

9. KARTU
a. Penerima Kartu Kuning Terbanyak = Zulkifli(8 kali)
b. Penerima Kartu Merah Terbanyak = Sunarto, AK, dan M. Ridhuan(1 kali)

10. STREAK
a. Streak Kemenangan = 5
b. Streak Kekalahan = 2
Read more..

Sabtu, 29 Januari 2011

Top 10 : Penyerang Terbaik AREMA


1. Singgih Pitono
Legend of the Legends, julukan ini pantas disematkan kepada Singgih Pitono. Ia ditemukan manajemen Arema di akhir dasawarsa 80an setelah blusukan ke Tulungagung untukmencari bakat terpendam guna ditampilkan di ajang Galatama. Singgih Pitono 2 kali menjadi top skorer Galatama yaitu pada Galatama XI tahun 1991/1992 dengan torehan 21 gol, Galatama XII tahun 1992/1993 dengan 16 gol. Selain itu ia mampu menempatkan diri sebagai top skorer tim pada Liga Indonesia I di tahun 1994/1995 dengan 14 gol. Dengan perolehan tersebut maka layaklah Singgih Pitono dianugerahi "award" sebagai penyerang/striker terbaik yang dimiliki oleh Arema. Singgih Pitono hadir di bumi Arema dan memperkuat tim yang diidolai hampir penggemar sepakbola di seantero Malang selama lebih dari 7 tahun. Kiprah terakhir Singgih Pitono bersama Arema adalah pada Liga Indonesia II 1995/1996. Seolah menandai akhir era emas Singgih Pitono di pentas sepakbola Indonesia, ketika itu ia hanya mampu mencetak 4 gol di kompetisi LI II sekaligus menjadikan tahun itu sebagai tahun kelabu bagi barisan penyerang Arema. Total, hanya 19 gol yang mampu dicetak pemain Arema dalam 30 pertandingan. Koefisien gol sebesar 0,63 menjadikan kompetisi tersebut sebagai masa paling "mandul gol" bagi Arema. Bahkan, ketika itu Singgih Pitono sempat menjadi cemohan warga Malang karena sudah tidak mampu lagi memamerkan skill tendangan geledeknya ketika tendangan bebas. Salah satu yang patut disesali adalah momen tendangan bebas yang diperoleh Singgih Pitono ketika melawan ASGS di Stadion Gajayana Malang. Singgih Pitono beberapa kali memperoleh peluang tendangan bebas yang berjarak hanya 20-25 meter dari garis gawang ASGS. Namun, dari sekian peluang yang diperolehnya tidak ada yang mempu melewati pagar betis pemain lawan. Sehingga beberapa pelaung emas yang biasa menjadi spesialisasinya sirna menjadi gol. Meskipun begitu, dengan segala prestasinya tersebut Singgih Pitono patut masuk sebagai salah satu legenda terbaik yang pernah dimiliki Arema.


2. Mecky Tata
Bila Singgih Pitono adalah Michael Jordan, maka Mecky Tata adalah Scottie Pippennya. Mungkin terasa berlebihan, tapi cukuplah untuk menggambarkan duet maut penyerang yang dimiliki Arema Malang. Mecky Tata adalah pemain asal Papua yang mencatatkan prestasi mentereng bersama Arema. Ketika berduet dengan Singgih Pitono ia pernah mengantarkan Arema menjadi Juara Galatama 1992/1993 dan Runner Up Piala Galatama 1992. Sementara prestasi individunya ketika menjadi pemain Arema ialah berhasil meraih Gelar Top Skorer Galatama IX tahun 1988/1989 dengan 18 gol bersama dengan Dadang Kurnia, penyerang dari klub Bandung Raya. Ketiak di Arema, Mecky Tata beberapa kali menjadi Runner up top skorer tim dibawah Singgih Pitono, salah satunya pada Galatama IX tahun 1990-1992 dengan torehan 8 gol. Kiprah Mecky Tata bersama Arema berakhir pada Ligina V di tahun 1999.


3. Pacho Rubio
Pacho adalah legenda Arema dibandingkan dengan sederetan legiun asing Arema yang berasal dari Chile diantaranya Rodrigo Araya, Juan Rubio, Jaime Rojas, Marcus Rodriguez, Nelson Leon Sanchez, Christian Cespedes dan J.C. Moreno. Kiprahnya bersama Arema memang tergolong singkat. Total ia mampu mencetak 10 gol sejak hadir di bumi Arema mulai putaran II Liga Indonesia 2000(termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan). Kiprahnya bersama Arema di babak 8 besar tersebut menjadi momen emasnya bersama Arema. Hebatnya, semua golnya dihasilkan dari tandukan kepala dan lewat sebuah prosesi cantik hasil assist dari gelandang-gelandang Arema yang dimotori oleh Rodrigo Araya. Sayang, skorsing seumur hidup PSSI membuyarkan harapan Aremania untuk melihat kiprah Pacho lebih lama di Malang. Meskipun begitu, Pacho adalah simbol bagi Aremania. Simbol yang melambangkan perjuangan, kerja keras dan harga diri Aremania.


4. Ahmad Junaidi
Arek Probolinggo ini datang ke Arema dengan segala beban dari harapan Aremania yang terpatri dipundaknya. Meski ia pernah sukses bersama PKT Bontang ketika menjadi runner up Liga Indonesia VI, tentu tidak terlalu mengenakkan hadir untuk pertama kali di bumi Arema dibawah bayang-bayang kesuksesan Pacho Rubio di musim sebelumnya. Apalagi di awal-awal Liga Indonesia VII, Ahmad Junaidi kehilangan partnernya dilini depan, Hadi Surento setelah bertanding melawan PSS Sleman. Namun, Ahmad Junaidi mampu menjawab semua keraguan yang diletakkan kepadanya, meski Arema di Putaran I mengandalkan pemain lokal, Ahmad Junaidi mampu menjadi top skorer tim dengan torehan 15 gol ketika itu. Bahkan ketika manajemen Arema mendatangkan bomber sekelas Bamidelle Frank Bob Manuel di Putaran II, ketajaman yang ditunjukkan Ahmad Junaidi juga tidak berkurang. Bersama Bobby(panggilan akrab Bamidelle Frank Bob Manuel) Ahmad Junaidi bersama-sama membukukan masing-masing 7 gol untuk Putaran II tersebut. Salah satu momen terbaik Ahmad Junaidi bersama Arema dan Aremania adalah ketika menjadi pahlawan kemenangan Arema atas musuh bebuyutannya dengan sebiji gol yang dicetaknya di menit 75 pada laga yang disaksikan sekitar 20.000 Aremania di Stadion Gajayana Malang. Laga yang digelar pada tanggal 8 Juli 2001 tersebut membawa kemenangan Arema dengan skor 1-0. Sayangnya, diakhir musim kompetisi Ahmad Junaidi berbuat blunder, from hero to zero adalah istilah yang tepat dibuatnya. Ahmad Junaidi yang dikontrak 2 tahun oleh Arema berbuat ulah dengan mengingkari kesepakatan kontrak kerja 2 tahun yang telah dibuat sebelumnya. Dalih meminta tambahan gaji di musim kedua dijawab Arema dengan tidaknya kesepakatan yang tertulis di lembar kontrak yang pernah ditandatangani sebelumnya. Akhirnya, transfer sebesar 125-175juta rupiah dari kubu Persebaya menjadi jawabannya. Seolah menjadi karma, setelah meninggalkan Arema Ahmad Junaidi seolah kehilangan tajinya. Di Persebaya karirnya memudar, ia tidak cocok dengan skema permainan pelatih Persebaya ketika itu, Rusdy Bahalwan. Selepas dari Arema, Ahmad Junaidi sudah tidak pernah mencetak gol lebih dari 10 gol dalam semusim di strata teratas Liga Indonesia. Selepas dari Arema dan Persebaya Ahmad Junaidi berpindah-pindah klub diantaranya pernah memperkuat Persema Malang di Ligina 2004 dan Persipro Probolinggo.



5. Johan Prasetyo
Johan Prasetyo didatangkan dari Diklat Salatiga bersama Suswanto. Di tahun pertama dan terakhirnya membela Arema, Johan mampu menyingkirkan sederet pemain senior seperti Joko Susilo, Marcus Rodriguez untuk menjadi ujung tombak bagi pola 3-6-1 arahan Daniel Rukito. Total 14 gol dicetak Johan Prasetyo di musim pertamanya. Dengan usia yang masih muda ia mampu menjadi pesaing sederet bomber papan atas seperti Bako Sadissou, Bambang Pamungkas, Yao Eloi, Jainal Ikhwan, dll. Di musim pertamanya tersebut Johan Prasetyo mampu memukau Aremania. Bahkan sekelompok Aremania pernah membentangkan sebuah replika kaus dengan ukuran lebih dari 5 meter bertuliskan Johan Prasetyo lengkap dengan nomor punggung 11 ketika laga kandang terakhir Arema melawan Persikota Tangerang. Sayang di babak 8 besar Johan Prasetyo tidak mampu menyumbang sebiji golpun untuk Arema. Puncaknya, ia bersama Suswanto dan sederet mantan punggawa Arema di Ligina VIII dicap sebagai pengkhianat dengan ikut bedol desa ke Kediri. Johan Prasetyo bersama Suswanto sebenarnya dikontrak 3 tahun bersama Arema ketika itu. Di akhir musim tersebut Aremania harus merelakan keduanya untuk pergi dengan nilai transfer mencapai 100juta rupiah. Sama seperti kiprah Ahmad Junaidi ketika "mengkhianati" Aremania, Johan Prasetyo juga seakan kehilangan tajinya begitu keluar dari Arema. Meski ia pernah merasakan gelar juara Liga Indonesia bersama Persik Kediri, namun deretan cedera dan inkonsistensi menyebabkan ia kehilangan pamornya. Selepas meninggalkan Arema, ia tidak pernah lagi mencetak gol dengan jumlah 10 gol didalam satu musim kompetisi.


6. Charles I.S. Horiq
Untuk 13 Gol yang dicetak dalam setengah musim kompetisi adalah jumlah yang hebat bagi pemain yang baru pertama kalinya menancapkan kaki di ajang liga profesional. Charles Horiq sebelum bergabung dengan Arema adalah pemain di Mabes TNI AU. Bahkan, awal kalinya ia bergabung di Arema, tidak ada seorangpun publik yang menggantungkan asa kepadanya. Harap maklum, posisi Arema ketika itu berada di jurang degradasi. Namun, bersama rekrutan baru Arema macam Simamo Armand Basile, Christian Cespedes, Stenly Mamuaya, Rodrigo Araya dan Anshar Abdullah ia sukses menjadi tumpuan pelatih Meneer Henk Wullems. Sayang, terlambatnya start Arema di Liga Indonesia 2003 menjadikan kerja keras Charles Horiq seakan sia-sia. Arema tetap terpuruk di papan bawah dan terdegradasi ke Divisi I di musim berikutnya. Namun, seolah menjadi impas ketika Charles Horiq berada di Arema musim berikutnya, meski hanya menjadi supersub dan mencetak beberapa gol, Charles Horiq bersama pemain Arema lainnya sukses menjuarai Divisi I dan lolos ke Divisi Utama Ligina(Liga Indonesia) 2005. Selepas dari Arema, Charles Horiq sempat berpindah klub yaitu Persela Lamongan dan Persija Jakarta.


7.Emaleu Serge Ngomgue
Sungguh beruntung Arema memiliki bomber sekelas Emaleu Serge. Kehadirannya mampu mnejadikan Arema sebagai salah satu tim tersubur di Liga Indonesia 2005-2006. Dari 3 musim kehadiran Serge di bumi Arema(tidak termasuk musim 2007 dimana Emaleu Serge mengalami cedera patah kaki selepas pertandingan di Jusuf Cup akibat tackle brutal pemain belakang Persipura, Bhio Pauline). Dari dua musim pertama Emaleu Serge membela Arema, total ia membubukan 36 gol. Di musim 2005 ia mencetak 11 gol di ajang Ligina dan 7 gol di ajang Copa Indonesia dan turut menyukseskan langkah Arema sebagai Juara Copa Indonesia 2005 serta runner up top skor Copa Indonesia dibawah Javier Roca. Tahun berikutnya, berkah seolah memayungi Emaleu Serge bersama Arema. Meski hanya mencetak 9 gol diajang Ligina dan hanya mampu membawa Arema sampai 8 besar Ligina 2006, namun Emaleu Serge mampu membukukan 9 gol di ajang Copa Indonesia 2006. Emaleu Serge menjadi Top Skorer Copa Indonesia 2006 dengan 9 gol dan mampu membawa Arema menjadi Kampiun Copa Indonesia untuk kedua kalinya. Emaleu Serge tampil di kedua Final Copa Indonesia 2005 dan 2006. Meski tak mencetak gol, duetnya bersama Franco Hita kerap mengobrak-abrik barisan pertahanan lawan. Bersama Mecky Tata dan Singgih Pitono, ia adalah satu diantara 3 pemain penyerang Arema yang pernah mendapatkan predikat gelar top skorer. Nyaris, kiprahnya di Liga Indonesia tidak pernah menyayati hati Aremania. Emaleu Serge sampai sekarang masih berniat bergabung dengan Arema, sekalipun ia tahu kuota pemain asing nonAsia di Arema sudah penuh seiring hadirnya Roman Chmelo, Esteban Guillen dan Pierre Njanka. Selepas bergabung dengan Arema, Emaleu Serge sempat bergabung bersama Persija Jakarta dan Pro Duta Sleman.


8. Roman Chmelo
Roman adalah simbol kedigdayaan bari barisan penyerang Arema masa kini. Pergerakannya yang luwes dan fisiknya yang mumpuni menjadikan ia sebagai salah satu dari sekian pemain Arema yang stabil penampilannya sepanjang mengikuti Indonesia Super League 2009/2010. Roman Chmelo datang di putaran II ISL 2008/2009 untuk menggantikan posisi Leo Chitescu. Tidak butuh waktu lama Roman untuk menjadi idola Aremania. Meski ia hampir tersingkir di awal ISL 2009/2010 karena tidak sesuai dengan kebutuhan Robert Albert, namun perlahan pasti akhirnya ia mampu menjawab segala keraguan yang ditimpakan kepadanya. Total 15 gol di ajang ISL 2009/2010 ia buat untuk mengantarkan Singo Edan meraih gelar ISL untuk pertama kalinya. Sementara, di ajang Piala Indonesia, meski hanya 1 gol dan beberapa kontribusi berupa assist sanggup mengantarkan Arema menjadi Runner Up Piala Indonesia sebelum dikalahkan Sriwijaya FC pada final yang berlangsung di Solo beberapa waktu lalu. Roman Chmelo saat ini mnejadi idola Aremania bersanding dengan beberapa pemain kunci seperti Noh Alam Shah, M. Ridhuan, dan sederet pemain lainnya. Loyalitasnya bersama Singo Edan sudah terbuktikan dengan adanya deal lisan antara dia dengan management Arema untuk memperkuat tim berjuluk Singo Edan pada musim kompetisi 2010/2011. Andai ia jadi membubuhkan tanda tangan kontrak untuk Arema di musim depan, patut kiranya kita tunggu kiprah Roman Chmelo bersama Singo Edan di musim depan.


9. Noh Alam Shah
Along, panggilan akrab dari Noh Alam Shah adalah The New Pacho Rubio. Pemain bengal ini memang ibarat Pacho Rubio yang diidolai oleh jutaan Aremania/ta. Nyaris, tidak terhitung tingkah laku "unik" ALong semasa memperkuat Arema. Dimulai dari banyaknya kartu yang diterima, hingga insiden yang melibatkan tendangan Kungfu Along di Final Piala Indonesia antara Arema melawan Sriwijaya FC. Meskipun begitu, Along adalah aset yang berharga di Arema. Total 14 gol di pentas ISL 2009/2010 ditambah 1 gol di ajang Piala Indonesia menjadikannya sebagai salah satu bomber tersubur yang dimiliki Arema. Meski ia tidak berhasil mencapai target untuk mencetak 20 gol di ajang ISL musim ini, namun perolehan 14 gol tersebut sudah cukup untuk memberikan kontribusi berarti bagi perjalanan Arema musim ini. Bahkan tidak jarang gol Along menentukan langkah Arema meraih kemenangan di setiap pertandingannya. Salah satunya adalah ketika ia berhasil mencetak gol penentu atas Persik pada laga yang berlangsung di Stadion Surajaya Lamongan. Gol tunggal itu mampu mengobati luka Aremania yang bertahun-tahun merindukan kemenangan atas Persik. Lebih dari 11000 Aremania bersuka cita menyambut gol tunggal tersebut. Di Timnas Singapura, ALong mencetak 34 gol dari 75 kesempatan memperkuat The Lions


10. Emile Bertrand Mbamba
Mbamba, demikian panggilan akrabnya adalah satu-satunya striker Arema yang pernah bermain di ajang UEFA Champions League. Ketika itu ia memperkuat Maccabi Tel Aviv dan mencetak gol ke gawang Juventus di ajang Penyisihan Grup C. Uniknya, gol yang dibuat oleh Mbamba memupuskan harapan Juventus dan Juventini untuk mencetak clean sheat dan kemenangan 100% di ajang penyisihan Grup tersebut. Walhasil, setelah pertandingan yang berakhir seri tersebut Juventus harus "merelakan" lolosnya ke Babak 16 Besar sedikit ternoda dengan hilangnya kans meraih 3 poin atas lawan yang berada di posisi akhir Grup C. Di Arema, Mbamba total mencetak 17 gol dari 23 kali pertandingan selama memperkuat Arema di musim Liga Indonesia 2007-2008 dan ISL 2008. Kontribusinya sangat besar untuk mengantarkan Arema menembus babak 8 besar di Liga Indonesia 2007-2008. Di musim pertamanya bersama Arema ia baru memperkuat tim ketika sudah memasuki putaran kedua. Selama setengah musim ditambah kiprah Mbamba di 8 Babak 8 Besar, ia suskes membukukan 11 gol. Tak jarang gol yang dicetak oleh Mbamba adalah gol cantik yang berkelas. Seperti misalnya salah gol yang dicetak lewat tendangan voli ketika Arema mengalahkan Persiba Balikpapan 3-0. Gol yang dicetak dihadapan 50.000 penonton tersebut sangat berkelas dan dicetak dari luar kotak penalti. Sayang, ketika menginjak pertengahan Putaran I ISL 2008/2009 ia harus menerima sanksi dilarang mengikuti sepakbola Indonesia selama 5 tahun oleh Komdis PSSI. Sanksi yang tidak sepadan hanya karena tingkah protes Mbamba yang dinilai berlebihan tersebut semakin merepresentasikan bobroknya Komisi Wasit PSSI ketika itu. Ingat, gol ketiga Mbamba yang dianulir ketika Arema berhadapan dengan Persiwa di Babak 8 Besar LI 2007/2008 yang berbuah kerusuhan penonton. Gol itu dicetak melalui sundulan dan bersih karena melewati proses coming from behind. Belum lagi, beberapa kebobrokan keputusan wasit yang seringkali merugikan Arema ketika itu seakan menjadi pelengkap yang harus diderita Arema.



Nominasi lain :
Ada banyak striker jempolan yang dimiliki oleh Arema. Beberapa nama lain yang bisa masuk pertimbangan adalah Junior Lima Filho dan Rivaldo Costa yang bahu membahu mengantarkan Arema menjadi Juara Liga Pertamina 2004. Selain itu ada nama lain yang tidak dapat dikesampingkan seperti Pato Morales yang sukses menyumbang 10 gol Arema di Liga Indonesia 2007-2008, Bamidelle Frank Bob Manuel, Franco Hita, dll. Untuk penyerang lokal, nama-nama seperti Joko Susilo dan Marthen Tao patut dimasukkan. Joko Susilo bahkan hampir 10 musim kompetisi bergabung bersama Arema, meski semapt memperkuat tim Persija Jakarta. Bahkan loyalitasnya di Arema sangat terbukti. Gethuk, panggilan akrab Joko Susilo pernah menolak kontrak senilai 40juta rupiah di pertengahan 90an untuk menerima pinangan 1juta rupiah bersama Arema Malang. Kini Joko Susilo bergabung bersama Arema sebagai asisten pelatih.
narupes e lek mengandung


Terimakasih
Read more..

Senin, 04 Oktober 2010

[Renungan]Mereka yang Datang dan Mereka yang Pergi

Mereka yang Datang dan Mereka yang Pergi
Written by Pahlevi Wednesday, 29 September 2010 11:28

Mengawali musim 2010/2011 hal yang paling menarik untuk dibahas adalah arus keluar masuk pemain dalam bursa transfer Arema, jika dibandingkan dengan musim lalu komposisi pemain Arema dapat dikatakan lebih "gemuk" , hal ini disesuaikan dengan kebutuhan tim yang harus mengikuti 3 ajang kompetisi dalam waktu satu musim kedepan. Yakni champion asia, ISL, dan Piala Indonesia, dan Arema tidak hanya sekedar numpang lewat di tiga ajang tersebut. Muka-muka baru yang menghiasi skuad Arema merupakan nama-nama yang telah lama ikut mewarnai kompetisi sepakbola nasional, mereka antara lain :

Miroslav Janu ketika pertamakali di Arema menjabat coach-manager hal yang berusaha ditiru oleh Arema dari persepakbolaan eropa, tidak heran bila Arema pada waktu itu merupakan tim yang bertabur bintang sehingga membuat Janu leluasa memilih pemain yang diinginkannya hal ini juga disokong dengan kekuatan financial yang sangat kuat dari PT Bentoel. Di musim 2010/2011 Miroslav Janu melakukan comeback ke Arema, dengan kondisi yang berbeda dari segi manajemen, ekspektasi untuk tetap menjaga nama besar Arema sebagai juara bertahan diletakkan di pundak Miroslav Janu . Janu juga tidak sendirian, Janu juga membawa mantan asisten pelatihnya ketika menukangi Arema yakni Tony Ho untuk ikut mendampinginya menukangi Arema untuk musim 2010/2011. Dari hasil yang dituai oleh Arema di tournament pra-musim Inter Island Cup (IIC) Arema menuai hasil satu kali menang dan satu kali imbang hal ini mengantarkan Arema menduduki posisi ke-dua grup A di bawah PERSIWA WAMENA yang unggul selisih gol, hasil yang cukup mengecewakan bagi beberapa Aremania namun dari segi permainan sebenarnya Arema tetap berada dikelasnya sebagai salah satu tim calon juara musim depan, karena pada pertandingan di IIC Arema tidak memainkan pemain Timnasnya yang mengikuti pemusatan latihan dan pemain Asing

Di jajaran managemen kembalinnya M. Taufan sebagai asissten manajer juga menuai cerita. Ketika menjabat manager Arema M. Taufan sempat terkena sanksi dilarang mendampingi tim berlaga, karena dianggap telah melakukan tindakan provokasi. Era yang dihadapainya sekarang tentu berbeda dengan era ketika dia menjadi manager Arema, masalah financial menjadi tantangan terberat dalam menjabat asisten manager Arema untuk musim 2010/2011. Sosoknya yang senantiasa mendampingi Arema dimanasaja berlaga menjadi motivasi tersendiri bagi para pemain setiap berlaga.

Ahmad Kurniawan, nama yang satu ini sebenarnya sudah tidak asing lagi ditelinga para Aremania. Maklum AK sapaan akrab Ahmad Kurniawan sempat memperkuat Arema selama 4 musim mulai 2004-2008 dan mempersembahkan gelar juara copa Indonesia 2 kali berturut-turut pada tahun 2005 dan 2006. Meskipun sempat hijrah ke PERSIK Kediri pada musim 2008/2009 dan semen padang pada musim 2009/2010, nama AK masih tetap menjadi perbincangan dikalangan Aremania, karena ketika AK hijrah, sang adik kurnia meiga masuk menggantikan sang kakak dengan permainan yang cukup menjanjikan dan juga ditopang dengan usia yang cukup belia. Sekarang untuk musim mendatang dua kakak-beradik ini saling bahu-membahu untuk mengantarkan Arema meraih prestasi. Kehadiran AK selain sebagai pelapis kurnia meiga, juga diharapkanmampu menjadi mentor yang baik bagi kurnia meiga yang terkadang masih kurang mampu mengendalikan emosinya dilapangan. Namun AK juga siap berebut posisi kipper utama dengan sang adik, karena AK juga tidak datang dengan tangan kosong, AK menjadi komponen penting kesuksesan semen padang promosi ke liga super untuk musim mendatang. Rotasi di posisi penjaga gawang akan menjadi mudah, karena penjaga gawang ketiga Arema Aji saka juga memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan AK dan Kurnia meiga, dan yang diharapkan akan semakin sedikit gol yang bersarang ke gawang Arema.

Ahmad Amirudin, pemain berdarah makasar ini berposisi sebagai striker. Namun Ahmad Amirudin sempat merasakan berbagai macam posisi dalam perjalanan karirnya. Ketika raja isa mengarsiteki PSM Ahmad Amirudin sempat merasakan posisi sebagai gelandang, bahkan ketika Ahmad Amirudin mengikuti raja isa hijrah ke Persiram Ahmad Amirudin sempat juga merasakan posisi sebagai center back. Pencapaian tertinggi ahmad secaara pribadi adalah memperkuat TIMNAS di piala asia 2007 meskipun hanya sebagai pemain cadangan. Tipikal permainan Ahmad Amirudin yang stylish/kalem diperkuat dengan umpan-umpan yang akurat menjadi tandem yang pas bagi along atau Musafri yang terkenal garang di kotak penalty lawan. Debutnya bersama Arema, langsung berbuah satu gol ketika Arema mengalahkan Persiwon 3-0 dalam laga uji coba. Permainan menjanjikan kembali ditunjukkan Ahmad Amirudin ketika Arema menang 1-0 atas PSM di tournament inter island cup, meskipun tidak mencetak gol permainan ahmad cukup menawan, bahkan ada satu peluangnya yang membentur mistar gawang.

Leonard Tupamahu, pemain keturunan Maluku kelahiran Jakarta ini sangat lekat dengan Persija, maklum hampir 4 tahun Leo memperkuat tim asal ibukota ini. Kedatangan Leo ke Arema terbilang cukup mengejutkan, karena stok lini belakang Arema sudah dianggap cukup mumpuni. Namun kebutuhan akan defender yang garang memang masih dibutuhkan oleh Arema karena lini belakang Arema saat ini didominasi oleh defender bertipikal stylish, sehingga kebutuhan akan defender "tukang jagal" sangat tepat untuk dialamatkan kepada sosok Leo . Yang terkenal tanpa kompromi dalam menghentikan pergerakan striker lawan.

Talaohu Abdul Musafri, pemain asal ternate ini merupakan salah satu striker papan atas Indonesia. Pemain yang sebelum membela Arema ini sempat membala PSS, Persiba, dan Persija ini merasakan puncak karir ketika memperkuat Persiba dengan mengemas 15 gol dalam satu musim. Hal ini membuat dia masuk memperkuat Timnas di era benny dollo yang pada akhirnya juga mengajak Musafri bergabung ke Persija. Di Persija dia mengalami paceklik gol dengan hanya mencetak 3 gol dalam satu musim. Merasa kurang berkembang di Persija, Musafri pun memilih hengkang dan pilihan labuhan berikutnya pun ditujukan ke Arema, meskipun sebelumnya sempat mendapatkan tawaran dari Persisam. Pemberitaan di beberapa media local Kaltim menyebut Musafri sebagai pemain yang takut istri, karena menganggap keputusannya memilih Arema dan menolak tawaran Persisam dilandasi karena desakan sang istri yang tak mau Musafri jauh-jauh dari jogja (tempat tinggal keluarga Musafri). Namun penampilan Musafri bersama Arema mampu memukau Aremania, pergerakan yang tidak kenal lelah dan kemampuannya mengobrak-abrik pertahanan lawan mampu berbuah satu gol yang mampu melengkapi permainannya yang menawan malam itu. Secara pribadi Musafri ingin menggapai apa yang dia capai bersama Persiba, dia berharap dukungan tanpa henti yang diberikan Aremania mampu mengembalikan permainannya . tak heran bila pada penampilan perdananya Musafri seolah ingin mencari simpati Aremania dan ingin membuktikan bahwa dia pantas menjadi idola baru Aremania.

Yongki Ariwibowo. Pemain muda harapan sepakbola nasional ini namanya melejit ketika aji santoso menukangi Persik. Hengkangnya nama-nama besar seperti Budi Sudarsono dan Christian Gonzales, membuat Yongki memiliki kesempatan lebih untuk menunjukkan kualitasnya. Yongkipun langsung memukau public sepakbola nasional lewat pergerakannya yang cepat dan kemampuannya memanfaatkan setiap peluang yang ada. Memasuki musim 2010/2011 Yongki memutuskan untuk hijrah. Tetangga dan salah satu rival abadi PERSIK yakni Arema menjadi pilihan. Dalm sebuah wawancara dengan media nasional Yongki menuturkan bahwa keputusannya bergabung dengan Arema adalah karena dia teroukau dengan Aremania yang selalu loyal mendukung dimana saja Arema berlaga. Menjadi salah satu bintang yang paling ditunggu kedatangannya ini, sayangnya Yongki belum mampu menunjukkan kualitasnya dihadapan Aremania, karena harus mengikuti pemusatan latihan bersama tim nasional. Patut di tunggu kiprah Yongki bersama Arema ditengah skuad muda yang memang merupakan habitat asli Yongki yang juga merupakan pemain muda berbakat.

Gunawan, tidak banyak diketahui oleh kiprah pemain yang satu ini, maklum usianya masih relatif muda. Rekan seangkatan Beny Wahyudi di Arema ini merupakan sosok bek sayap (bisa juga ditempatkan di saya) yang diandalkan. Meski sejatinya berasal dari akademi Arema, namun Gunawan dibesarkan oleh klab Deltras Sidoarjo dan membawanya lolos ISL musim ini

Mereka Yang Pergi

Tidak lengkap rasanya jika kita tidak juga mengupas tentang sosok-sosok yang terpaksa mengakhiri kebersamaannya dengan Arema yang berkesan dan penuh kenangan bagi perjalanan hidup mereka ketika menjadi sosok yang juga ikut memiliki peran mengantarkan kesuksesan Arema menjuarai ISL 2009/2010. Yang paling menyita perhatian tentunya adalah kepergian sosok meneer Robert Rene Albert.

Robert Rene Albert datang ke kandang Singo Edan dengan berbalut keraguan yang ditumpukan kepadanya. Selepas kegagalan Arema di ajang ISL perdananya, tidak ada yang menyangka Arema akan berkilau setelah dilatihnya. Kiprah Robert di Arema merupakan kiprah pertamanya di kancah sepakbola nasional Indonesia, kemampuannya memantau bakat dan mengembangkan bakat yang dimiliki pemain-pemain muda, berbuah hasil sebagai tim dengan tim dengan rata-rata usia termuda yakni di bawah 24 tahun. Dalam era Robert Arema bermain dengan formasi 4-4-1-1 atau 4-5-1 dengan menumpukan kekuatan disektor sayap yang diemban oleh M. Fakhrudin dan M. Ridhuan dan memposisikan Noh Alam Shah sebagai target man dan Chamelo Roman sebagai second striker.

Banyak kenangan Aremania terhadap sosok Robert yang mampu mengantarkan Arema ke puncak prestasi, tapi bagi Aremania mereka hanya mendukung Arema siapapun pelatihnya dan siapapun pemainnya, terimakasih kepada Robert atas segala jasa dan jerih upayanya pada Arema dan bagaimanapun nama Robert tetap akan abadi dalam kenangan dan sejarah manis Arema. Hal yang bertolak belakang terjadi ketika Robert menukangi PSM untuk musim 2010/2011 PSM hancur lebur diajang IIC dengan menelan dua kekalahan, hal yang sangat berbeda ketika dia mengawali debut yang sangat mengesankan di Arema dengan melumat tim bertabur bintang Persija bahkan Bambang Pamungkas mengatakan "kami seperti bermain melawan tim yang bukan berasal dari Indonesia dan seakan-akan mereka berjumlah lebih dari sebelas orang". Patut disimak kiprah Robert di PSM akankah sejaya di Arema. Dia sendiri ke PSM dengan membawa asistennya yaitu Lestiadi

Sosok berikutnya adalah Rahmad Affandi. Striker pelapis along ini musim lalu menyumbang 5 gol bagi Arema. Rahmad juga mampu menjadi pemecah kebuntuan bila lini depan Arema mandul. Pergerakannya yang tak terduga dan naluri gol yang tinggi menjadi cirri khas permainan rahmad affandi. Kabar hengkangnya rahmad affandi cukup mengejutkan karena sebelumnya telah ada komitmen antara rahmad dan m.nur selaku ketua yayasan Arema. Namun selang beberapa hari rahmad dikabarkan mengikuti seleksi di PERSIB. Di persib rahmad harus berebut tempat utama dengan nama-nama seperti Christian Gonzales dan Pablo frances. Rahmad affandi selain menginginkan tempat utama dia juga berusaha merebut gelar dari Arema. Kita lihat saja kiprahnya setelah hengkang dari Arema akankah secemerlang di Arema.

Jalaludin Main, sebenarnya adalah pemain senior yang direkrut oleh Arema dengan harapan mampu membimbing pemain muda lain. Namun dia gagal melakukannyanya karena tidak kunjung mendapatkan performa terbaiknya. Total hanya 383 menit saja dia bermain untuk Arema

Gery S, Striker ini digadangkan sebagai striker masa depan Arema. maklum, dengan usia masih muda plus alumni tim nasional, membuat Arema tidak ragu mengontraknya. Namun sayang, pembuktian dia hanya di awal kompetisi saja, tepatnya ketika melawan Persija dan PSPS. plus dua menit main melawan Persisam. Sisanya dia hanya duduk di tribun kehormatan, karena sudah tidak bisa bermain akibat cidera parah

Iswan Karim, sebenarnya dia masuk ke Arema setelah Markus memutuskan hengkang ke Persib, penampilan apiknya adalah ketika Arema bersua dengan Persija di akhir kompetisi. Masuknya Ahmad Kurniawan membuat dia tidak mendapatkan tempat di Arema lagi

Firmansyah Aprlianto, Faris Bagus Dinata, harus kembali ke skuad U21. Sedangkan musim ini Arema mempromosikan Al Farisi ke skuad utama.


Silakan KliK Iklan Di Dalam Banner Di Bawah Ini untuk berlangsunya blog ini...terimakasih...klik anda sangat berarti bagi kami
Terimakasih
Read more..

Perjalanan Arema di Kompetisi Galatama VIII-XIII



Ini Data dan Fakta yang Terjadi pada Sepak bola Nasional Khususnya Arema Pada Tahun 1987-1994 (Jaman Galatama) yang diambil dari www.rsssf.com, wikipedia dan dari pengalamanku menonton pertandingan di stadion hingga membaca/melihat berita2 di media cetak maupun elektronik, berikut beberapa fakta yang terjadi:

http://images.quisys.com/wearemania/berita/sejarah/galatama_XII.jpg

Skuad Arema 1987-88
Berdiri dari kanan-kiri : Dominggus Nowenik, Jamrawi, Donny Latuperisa, Micky Tata, Kusnadi Kamaludin.
Jongkok dari kanan-kiri : Mahdi Haris, Muchrim Akbar, Jonathan, Effendi Aziz , ????, Andik.

Arema 1987/88 pada awal-awal arema mengikuti Galatama edisi ke VIII ,Arema finish di urutan 6 dari 14 tim, Arema di arsiteki oleh Sinyo Aliandoe.

=================================================
Galatama VIII 1987/88
Klasemen Akhir:


1.Niac Mitra 26 19 4 3 44-13 61
2.Pelita Jaya 26 18 3 5 51-20 57
3.Arseto Solo 26 13 9 4 50-18 48
4.Krama Yudha 26 11 8 7 21-15 41
5.Makasar Utama 26 12 5 9 21-24 41
6.Arema Malang 26 10 10 6 33-20 40
7.Palu Putra 26 10 10 6 25-15 40
8.Semen Padang 26 11 4 11 27-30 37
9.Perkesa Mataram 26 8 9 9 26-27 33
10.Medan Jaya 26 6 6 14 18-32 24
11.Pusri Palembang 26 5 6 15 22-52 21
12.Lampung Putra 26 5 5 16 17-42 20
13.Warna Agung 26 4 7 15 11-33 19
14.Bandung Raya 26 4 6 16 20-45 17


=================================================
1988/89 Galatama IX Arema finish diperingkat ke-8 dari 18 tim, dan menempatkan Mecky Tata sebagai top scorer dgn 18 gol, berbagi dgn top scorer Bandung Raya Dadang Kurnia, Arema diarsiteki Sinyo Aliandoe kemudian digantikan pelatih muda pada waktu itu Almarhum. Andi M Teguh.

Galatama IX 1988/89
Klasemen Akhir:


1.Pelita Jaya 34 17 12 5 51-21 46
2.Niac Mitra 34 18 10 6 44-21 46
3.Arseto 34 16 9 9 38-24 41
4.Petrokimia Putra 34 15 10 9 32-26 40
5.Medan Jaya 34 14 10 10 41-32 38
6.Semen Padang 34 14 9 11 35-27 37
7.Bandung Raya 34 13 10 11 33-27 36
8.Arema Malang 34 14 8 12 33-32 36
9.Pupuk Kaltim 34 11 12 11 26-28 34
10.Makassar Utama 34 12 10 12 29-38 34
11.Krama Yudha Tiga Berlian 34 9 14 11 36-31 32
12.Warna Agung 34 10 12 12 24-33 32
13.Pusri Palembang 34 12 7 15 28-34 31
14.B.P.D. Jateng 34 10 10 14 28-31 30
15.Palu Putra 34 8 13 13 19-30 29
16.Perkesa Mataram 34 8 13 13 20-35 29
17.Lampung Putra 34 8 11 15 23-37 27
18.Barito Putra 34 3 8 23 14-47 14

=================================================
1990 Galatama X Arema finish di urutan ke- 4 dari 18 tim ketika itu Arema di arsiteki oleh Alm. Andi M Teguh.

Galatama X 1990
Klasemen Akhir:


1.Pelita Jaya 34 16 14 4 45-19 46 Jakarta
2.Krama Yudha Tiga Berlian 34 19 6 9 53-27 44 Bekasi
3.Pupuk Kaltim 34 15 11 8 36-19 41 Bontang
4.Arema Malang 34 15 11 8 31-26 41 Malang
5.Arseto Solo 34 14 12 8 38-28 40 Solo
6.Niac Mitra 34 15 8 11 43-31 38 Surabaya
7.Semen Padang 34 14 10 10 43-32 38 Padang
8.Pusri Palembang 34 11 12 11 37-37 34 Palembang
9.Petrokimia Putra 34 13 8 13 32-32 34 Gresik
10.Lampung Putra 34 10 13 11 28-32 33 Bandar Lampung
11.Palu Putra 34 12 9 13 33-39 33 Palu
12.Medan Jaya 34 11 10 13 38-40 32 Medan
13.BPD Jateng 34 11 7 16 37-39 29 Semarang
14.Makasar Utama 34 7 15 12 27-37 29 Makasar
15.Perkesa Mataram 34 6 14 14 25-33 26 Yogyakarta
16.Barito Putra 34 8 10 16 30-47 26 Banjarmasin
17.Bandung Raya 34 8 9 17 38-56 25 Bandung
18.Warna Agung 34 7 9 18 24-51 23 Jakarta


Silakan KliK Iklan Di Dalam Banner Di Bawah Ini untuk berlangsunya blog ini...terimakasih...klik anda sangat berarti bagi kami
Terimakasih
Read more..

Perjalanan Arema di Galatama XI dan Piala Galatama 90/92

1990-1992
1990/92 Galatama XI Arema finish di urutan ke-4 dari 20 tim, dan menempatkan Singgih Pitono sebagai top scorer dgn 21 gol, Arema masih dilatih oleh Alm. Andi M Teguh. Galatama XI merupakan kompetisi terpanjang dalam sejarah persepakbolaan nasional.

1992 Arema di arsiteki M Basri. di awal tahun 1992 Arema untuk pertama kalinya bertemu dengan saudara tua Persema dalam sebuah partai eksebisi di Stadion Gajayana, dipertandingan itu terjadi kericuhan sampai-sampai pertandingan tidak dapat dilanjutkan karena terjadi perkelahian antar pemain, saat itu Kusnan dari Arema mendapatkan kartu merah dari persema aku lupa (ono sing jek eling)

Di tahun itu Arema menjadi Runner up Piala Galatama setelah mengakui keunggulan Semen Padang dengan skor 1-0 (pemenang di laga ini berhak mewakili Indonesia di ajang Piala Winners Asia). Di kompetisi Galatama sendiri di laga home Arema Vs Semen Padang, terjadi insiden pemogokan tim kabou sirah. mereka menganggap gol Arema tidak syah karena belum melewati garis gawang setelah membentur tiang gawang atas. pertandingan itu pun terhenti masih dalam kedudukan 1-1, setelah itu PSSI memberi sanksi dengan tambahan 3 gol untuk Arema sehingga menjadi 4-1 dan poin Semen Padang dikurangi 3 poin.

Pada penutup putaran I Galatama XII Arema menjadi runner up PKT Bontang. kemudian di pertengahan putaran II Arema di tinggal pelatih M Basri ke Mitra Surabaya. Di dua pertandingan Arema tanpa didampingi seorang pelatih, kemudian Arema menunujuk Gusnul Yakin sebagai pelatih. sebelumnya dia menjadi asisten pelatih PKT Zulkarnaen Pasaribu.


Galatama XI 1990-92
Klasemen Akhir:

1. Arseto 37 23 7 7 46-21 53 (Solo)
2. Pupuk Kaltim 37 22 7 8 50-24 51 (Bontang)
3. Pelita Jaya 37 19 10 8 42-24 48 (Jakarta)
4. Arema 37 18 11 8 54-29 47 (Malang)
5. Petrokimia Putra 37 15 16 6 42-24 46 (Gresik)
6. Medan Jaya 37 17 10 10 44-28 44 (Medan)
7. Barito Putra 37 13 16 8 37-25 42 (Banjarmasin)
8. Gelora Dewata 37 13 13 11 34-27 39 (Denpasar)
9. Perkesa Mataram 37 13 11 13 25-30 37 (Yogyakarta)
10. Mitra 37 11 14 12 38-30 36 (Surabaya)
11. Semen Padang 37 12 12 13 35-32 36 (Padang)
12. BPD Jateng 37 12 12 13 28-36 36 (Semarang)
13. ASGG Salim Grup Galatama 37 12 9 16 41-47 33 (Surabaya)
14. Bentoel Galatama 37 9 14 14 21-32 32 (Jember)
15. Putra Mahakam 37 8 14 15 32-47 30 (Samarinda)
16. Aceh Putra 37 8 12 17 24-57 28 (Lhokseumawe, Aceh)
17. Bandung Raya 37 8 10 19 23-39 26 (Bandung)
18. Gajah Mungkur Muria Tama 37 6 11 20 20-52 23 (Kudus, Central Java)
19. Kramayudha Tiga Berlian 19 7 5 7 25-17 19 (Bekasi)
20. Warna Agung 37 6 4 27 20-60 16 (Jakarta)

NB:
27/06/1991, Kramayudha Tiga Berlian mendapatkan sanksi hukuman selama 3 tahun
karena tidak tampil di Asian Winners Cup.
08/07/1991, Kramayudha Tiga Berlian dibubarkan oleh Chairman Kramayudha Tiga Berlian's
,H. Sjarnoebi Said. KTB hanya mengikuti kompetisi hanya setengah musim.


Put I

11/11/1990 Arema 0-0 Barito Putra
06/12/1990 Mitra1-3 Arema [Hanafing 48; Mecky Tata 67, 73, Joko Slamet 81]
13/12/1990 Bentoel0-0 Arema
20/12/1990 Arema1-0 Putra Mahakam [Joko Slamet 20]
23/12/1990 Arema1-3PKT Bontang [Mecky Tata 63, Agus Udin 29, 68 Mansyur 86]
30/12/1990 Bandung Raya 3-0 Arema [Tony Abdullah 9, Yance Srinay 17, Dadang Kurnia 59]
03/01/1991 Warna Agung 1-0 Arema [Ahmad Latif pen]
06/01/1991 Pelita Jaya 2-1 Arema [Maman Suryaman 62, Hambali 75; Dominggus Nowenik 38]
10/01/1991 KTB 0-0 Arema
14/02/1991 Perkesa Mataram 0-1 Arema [Singgih Pitono 54]
17/02/1991 Gajah Mungkur 0-0 Arema
21/02/1991 BPD Jateng 1-2 Arema [Djoko Sutrisno 12; Puji Punarwan 23, Maryanto 85]
24/02/1991 Arseto 1-1 Arema [Eduard Tjong 89; Mecky Tata 47]
03/03/1991 Arema 6-1 Aceh Putra [Singgih Pitono 27, 46, 66, Joko Slamet 35, Jonathan 43, Panus Korwa 82;
Suwarto 61]
07/03/1991 Arema 0-0 Semen Padang
10/03/1991 Arema 2-0 Medan Jaya [Joko Slamet 72, Mecky Tata 75]
02/05/1991 Arema 1-0 Gelora Dewata [Singgih Pitono 25]
12/05/1991 Arema 3-0 ASGG [Maryanto 10, Mecky Tata 23, Aji Santosa 34]
19/05/1991 Arema 0-0 Petrokimia Putra

Put II
18/07/1991 Arema 4-0 Warna Agung [Mecky Tata 6, Singgih Pitono 7, Aji Santosa 75, Joko Slamet 88]
25/07/1991 Arema 1-0 Bandung Raya [Singgih Pitono 89]
01/08/1991 Petrokimia Putra 0-0 Arema
11/08/1991 Arema 1-0 Pelita Jaya [Kusnan 24]
18/08/1991 PKT Bontang 1-0 Arema [Dasrul Bahri 18]
22/08/1991 Putra Mahakam 2-0 Arema [Masudin 53, Abdul Rauf Haci 56]
25/08/1991 Barito Putra 3-0 Arema [Buyung Ismu 5, Frans Sinatra Huwae 14, Paulce Kia 44]
01/09/1991 Arema 1-2 Arseto [Mecky Tata 8; Ricky Yakobi 33, Dedy M Darda 80]
05/09/1991 ASGG 3-3 Arema [Makmun Adnan 28, Lulut Kistono 42og, Peri Sandria 60; Maryanto 24, unknown52, Joko Slamet 81]
15/12/1991 Arema 4-1 Bentoel[Singgih Pitono 11, 19, Maryanto 16, Mahmudiana 66; Misnadi Amrizal Pribadi 66]
22/12/1991 Arema 5-1 BPD Jateng [Jonathan 31, 41 Panus Korwa 50, Singgih Pitono 53, 84; Hengky Siegers 18]
26/12/1991 Arema 3-0 Gajah Mungkur [Mahmudiana 12, 72 Singgih Pitono 18]
29/12/1991 Arema 2-0 Perkesa Mataram [Singgih Pitono 4, 13]
02/02/1992 Gelora Dewata 0-1 Arema [Unkonwn]
09/02/1992 Arema 2-1 Mitra [Singgih Pitono 55, 69; Joko Susilo 22]
16/02/1992 Semen Padang 2-2 Arema [Musfadli 18, Indra 48; Singgih Pitono 1, 13]
20/02/1992 Aceh Putra 0-3 Arema [Jonathan 46, Singgih Pitono 72, Mecky Tata 87]
23/02/1992 Medan Jaya 0-0 Arema

Piala Galatama/Piala Liga 1992

First Stage
20/6/1992 Petrokimia P. 1-1 Arema [Fachri Husaini 67 ; Maryanto 71]
25/6/1992 Arema 0-0 Mitra
28/6/1992 Arema 1-0 Asyabab [Singgih Pitono 78]
01/7/1992 Gelora Dewata 0-4 Arema

Table:
Arema Malang 4 2 2 0 6-1 6 qualified
Petrokimia Putra 4 1 3 0 4-3 5 qualified
Mitra Surabaya 4 1 3 0 2-1 5
Asyabab Salim Grup Galatama 4 1 2 1 2-2 4
Gelora Dewata 4 0 0 4 2-9 0

Second stage
17/7/1992 Arema 0-0 Barito Putra
Semifinal
18/7/1992 BPD 0-1 Arema [Andik 13]
Final
21/7/1992 Semen Padang 1-0 Arema [Delvi Adri 53]


Silakan KliK Iklan Di Dalam Banner Di Bawah Ini untuk berlangsunya blog ini...terimakasih...klik anda sangat berarti bagi kami
Terimakasih
Read more..

Sejarah berdirinya AREMA



Awalnya tinggal di barak prajurit TNI AU

KETIKA Kompetisi Galatama semarak di beberapa kota besar, Malang tenang tenang saja. Kalau mau menyaksikan pertandingan Galatama, orang Malang harus lari ke Surabaya untuk menyaksikan Niac Mitra. Padahal Malang layak untuk mendirikan sebuah klub Galatama. Namun Arema pun berdiri. Bagaimana sejarah Arema? "Papi minta ada klub Galatama di Malang." Sepenggal kalimat yang diucapkan Ir Lucky Acub Zaenal kepada Ovan Tobing itulah, barangkali menjadi tonggak awal berdirinya sebuah tim kebanggaan kota Malang yang kini dikenal dengan nama Arema Singo Edan.

Papi yang dimaksud adalah julukan Brigjen (Pur) Acub Zaenal, yang tak lain adalah ayah Lucky sendiri. Sebagai Administrator Galatama saat itu, 'jendral' demikian Acub Zaenal akrab dipanggil, memang berobsesi Malang punya klub Galatama. Keinginan menggebu 'jendral', bermula ketika dia hadir di Stadion Gajayana menyaksikan duel Persema Malang, Perseden Denpasar dan Persegres Gresik. Banyaknya penonton yang menyaksikan pertandingan itu.

Selang beberapa hari kemudian, Acub mengutus Lucky untuk menemui Ovan Tobing. Kebetulan, Ovan saat itu adalah Humas Persema. "Bang, Papi minta ada klub Galatama di Malang," ujar Lucky kala itu kepada Ovan menyampaikan pesan sang ayah. Di Malang, memang sudah berdiri klub sepak bola Armada`86 milik Dirk Soetrisno atau yang biasa dipanggil Derek--almarhum. Derek pun lantas dirangkul. Harus diakui, awal berdirinya Arema tidak lepas dari peran besar Derek dengan Armada 86-nya. Nama Arema awalnya adalah Aremada--gabungan dari Armada dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema`86. Sayang, upaya Derek untuk mempertahankan klub Galatama Arema`86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena dihimpit kesulitan dana.

Dari sinilah, Acub Zaenal dan Lucky lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Setelah diambil alih, nama Arema`86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama 11 Agustus 1987 sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH--almarhum--No 58. "Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu, seperti air mengalir begitu saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus," ujar Ovan mengisahkan. Hanya saja, kata Ovan, dari pendirian bulan Agustus itulah kemudian simbol Singo (Singa) muncul. "Agustus itu kan Leo atau Singo (sesuai dengan horoscop)," imbuh Ovan.

Dari sinilah kemudian, Lucky dan, Ovan mulai mengotak-atik segala persiapan untuk mewujudkan obsesi berdirinya klub Galatama kebanggaan Malang. Segala tetek-bengek mulai pemain, tempat penampungan (mess pemain), lapangan sampai kostum mulai diplaning. Bahkan, gerilya mencari pemain yang dilakukan Ovan satu bulan sebelum Arema resmi didirikan. Pemain-pemain seperti Maryanto (Persema), Jonathan (Satria Malang), Kusnadi Kamaludin (Armada), Mahdi Haris (Arseto), Jamrawi dan Yohanes Geohera (Mitra), sampai kiper Dony Latuperisa yang kala itu tengah menjalani skorsing PSSI karena kasus suap, direkrut.

Bahkan pelatih sekualitas Sinyo Aliandoe, juga bergabung. Hanya saja, masih ada kendala yakni menyangkut mess pemain. Beruntung, Lanud Abd Saleh mau membantu dan menyediakan barak prajurit Pas Khas untuk tempat penampungan pemain. Selain barak, lapangan Pagas Abd Saleh, juga dijadikan tempat berlatih. Praktis Maryanto dkk ditampung di barak. "TNI AU memberikan andil yang besar pada Arema," papar Ovan.

Latihan fisik seperti militer

SEBENARNYA niat baik Lanud Abd Saleh yang mengulurkan tangannya dengan menyediakan mess kepada Arema merupakan suatu hal yang luar biasa. Praktis sejak saat itu, mereka ditampung di barak dalam rangka mempersiapkan sebuah tim solid yang mampu berbicara banyak. Selain barak, lapangan Pagas Abd Saleh, juga diperuntukkan sebagai tempat berlatih. "TNI AU memberikan andil yang besar pada sejarah perkembangan Arema," papar Ir Lucky Acub Zaenal. Karena sampai Arema 'besar' (sekarang), Lapangan Pagas masih menjadi tempat berlatih pemain-pemain Arema. Menariknya, saat itu pemain-pemain Arema berlatih fisik layaknya prajurit militer.

Maryanto dkk digembleng fisik di hutan yang masih berada di kawasan Lanud Abd Saleh. Pemain berlari zig-zag diantara rimbunnya pohon. Sebagai klub yang baru berdiri di kancah Galatama, keberadaan Arema sempat menarik perhatian khalayak. Bagaimana sih tampilan tim baru itu? Beruntung, debut perdana Arema kala itu mampu menarik perhatian publik Malang. Arema mendapat kesempatan langka untuk uji coba dengan tim elite asal Negeri Ginseng Korea Selatan (Korsel), Haleluya. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Kesempatan itu diperoleh Arema sewaktu Haleluya sedang melakukan pertandingan eksebisi di Indonesia.

Kemudian digandenglah Haleluya untuk bertanding dengan Arema di Stadion Gajayana. Awal debut Arema itu mendapat perhatian besar masyarakat. Mereka berbondong-bondong ke Gajayana. Tiketpun ludes. Ternyata, laga perdana Arema tidak seperti yang diharapkan. Di lapangan Arema menjadi bulan-bulanan pemain-pemain Haleluya yang sarat pengalaman. Kekalahan 5-0 tanpa balas itu berbuntut kekecewaan penonton. Makian dan umpatan tak habis-habisnya dialamatkan kepada 'bayi' Arema. Pokoknya entek-entekan (habis-habisan). Sekedar catatan, salah satu pemain Haleluya yang berlaga di partai eksebisi dengan Arema kala itu, ternyata diketahui sebagai kakak kandung Han Yong Kuk, legiun asing asal Korsel yang dimiliki Arema diguliran LI VII 2001.

Namun, Arema terus berbenah. Pelajaran mahal dari Haleluya dijadikan acuan untuk perkembangan ke depan. Cacian maupun makian dijadikan cambuk. Toh, berdirinya Arema juga sempat mengundang kecurigaan aparat waktu itu. Maklum, sebutan Arema identik dengan dunia sindikat, geng, dan segala tetek-bengek berbau kriminal. Buntutnya, Ovan Tobing terpaksa harus bolak-balik untuk dimintai keterangan aparat TNI. Namun, lewat upaya keras yang meletihkan, akhirnya Arema yang motivasi awal didirikan untuk mengangkat martabat dan harga diri warga Malang itu perlahan-lahan mulai berkibar.
Silakan KliK Iklan Di Dalam Banner Di Bawah Ini untuk berlangsunya blog ini...terimakasih...klik anda sangat berarti bagi kami
Terimakasih
Read more..

Features-Content

Recent Posts